Dukung Pelestarian Pesisir, PHE NSO Tanam 300 Mangrove dan Tebar 700 Bibit Kepiting di Aceh Utara

Ekonomi, Ragam19 Dilihat

ACEH UTARA – Komitmen terhadap pelestarian lingkungan sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat pesisir terus diperkuat oleh Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO). Melalui program rehabilitasi ekosistem mangrove, perusahaan menanam 300 pohon mangrove dan menebar 700 bibit kepiting bakau (Scylla paramamosain) di Gampong Teupin Kuyun, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan yang dikemas dalam Program Kelompok Kepiting Desa Unggul dan Reboisasi (KENDURI) tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, mencegah abrasi pantai, serta menciptakan habitat alami bagi berbagai biota laut yang bernilai ekonomis.

banner 400x130

Selain berorientasi pada pelestarian lingkungan, program ini juga diharapkan mampu membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan, melalui pengembangan budidaya kepiting bakau.

Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Kabupaten Aceh Utara, Samsul Rizal, mengapresiasi sinergi antara masyarakat dan PHE NSO dalam menjaga kelestarian kawasan pesisir. Menurutnya, mangrove dan kepiting merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling mendukung.

“Mangrove menjadi habitat alami bagi kepiting sehingga pelestarian mangrove sangat penting untuk keberlangsungan budidaya kepiting. Semoga ekosistem mangrove di kawasan pesisir Kecamatan Seunuddon dapat terus terjaga,” ujar Samsul Rizal.

Sementara itu, Manager Community Involvement Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat pesisir dalam mengembangkan potensi kelautan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Menurutnya, dengan kondisi ekosistem pesisir yang semakin baik, masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan ikan di laut, tetapi juga dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan melalui budidaya kepiting bakau.

“Kepiting bakau memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan permintaan pasar yang cukup besar. Karena itu, selain menjaga kelestarian ekosistem pesisir, program ini juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Iwan.

Kepiting bakau diketahui dapat dipanen dalam waktu tiga hingga lima bulan. Dengan tingkat keberhasilan panen mencapai 60 hingga 80 persen dari jumlah bibit yang ditebar, budidaya tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan nelayan berkisar antara Rp4 juta hingga Rp10 juta dalam setiap siklus panen.

Melalui langkah ini, PHE NSO tidak hanya berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir Aceh Utara, tetapi juga mendorong terciptanya sumber ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *