Ketika Sekolah Berbenah, Harapan Anak-anak Tumbuh Kembali

Headline, Pendidikan87 Dilihat

ACEH TAMIANG — Pagi belum sepenuhnya ramai ketika aktivitas di SMP Negeri 5 Karang Baru mulai bergerak. Di antara ruang-ruang sekolah yang sedang dituntaskan, jejak pekerjaan masih terlihat. Ada bagian bangunan yang telah berubah, ada fasilitas yang sedang dirapikan, dan ada pekerjaan kecil yang menunggu sentuhan terakhir.

Sekolah itu belum sepenuhnya selesai berbenah.

banner 400x130 banner 400x130 banner 400x130

Namun, wajah barunya perlahan mulai terlihat.

Revitalisasi SMP Negeri 5 Karang Baru kini telah mencapai 85 persen. Pekerjaan memasuki tahap finishing, menyisakan sejumlah penyelesaian di dalam ruangan serta fasilitas luar seperti pagar dan area lapangan.

Bagi sebagian orang, angka 85 persen mungkin sekadar menunjukkan progres pembangunan.

Bagi sekolah, angka itu menyimpan harapan yang jauh lebih besar: ruang belajar yang lebih nyaman, semangat baru bagi guru dan siswa, serta peluang untuk menarik lebih banyak anak-anak di sekitar sekolah agar memilih tempat itu sebagai ruang untuk menuntut ilmu.

Sebab sekolah bukan semata-mata bangunan.

Ia adalah tempat anak-anak menghabiskan sebagian masa pertumbuhannya. Tempat mereka pertama kali belajar memahami dunia, berteman, bermimpi, dan perlahan menentukan ke mana langkah akan diarahkan.

Karena itu, ketika bangunan sekolah diperbaiki, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan hanya dinding dan ruang kelas.

Ada harapan yang ikut direnovasi.

Di Balik 85 Persen Progres

Mencapai progres 85 persen bukan perjalanan tanpa tantangan.

Konsultan pengawas revitalisasi SMP Negeri 5 Karang Baru menyebut pekerjaan sempat menghadapi tekanan dari kenaikan harga material. Harga sejumlah kebutuhan pembangunan terus bergerak, sementara pekerjaan harus tetap berjalan dalam koridor perencanaan yang telah ditetapkan.

Namun, pekerjaan tidak boleh berhenti.

Standar keselamatan kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), kualitas material, hingga mutu hasil pekerjaan tetap menjadi perhatian.

“Alhamdulillah, pengerjaan kami saat ini sudah mencapai 85 persen dan memasuki tahap finishing,” kata konsultan pengawas.

Menurut dia, berbagai kendala yang muncul selama proses pengerjaan dapat dilewati melalui kerja sama seluruh pihak.

Termasuk ketika harga material mengalami kenaikan.

“Kami dapat melalui semuanya dengan tidak mengurangi nilai standar yang telah ditentukan,” ujarnya.

Di balik bangunan yang perlahan berubah itu, ada pekerjaan yang tidak selalu terlihat oleh mata.

Ada pengawasan. Ada pencatatan. Ada laporan yang harus disampaikan. Ada standar yang harus dipenuhi.

Revitalisasi yang dikerjakan secara swakelola ternyata tidak sesederhana melihat pekerja menyelesaikan bangunan dari hari ke hari.

Setiap tahapan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika Sebuah Kesalahan Bisa Berpengaruh Panjang

Konsultan pengawas menjelaskan, seluruh proses pelaksanaan dan pelaporan juga dilakukan melalui sistem berbasis Sibers. Perkembangan pekerjaan dilaporkan kepada pihak kementerian.

Karena itu, kepala sekolah maupun konsultan pengawas dituntut tidak lengah.

“Walaupun dikerjakan dengan cara swakelola, realitanya tidaklah semudah yang dibayangkan,” katanya.

Sistem pelaporan membuat setiap perkembangan harus dicatat secara cermat. Persoalan kecil dalam pelaksanaan maupun administrasi berpotensi memengaruhi proses keseluruhan.

Begitu pula ketika harga material berubah.

Menurut konsultan, pelaksana tidak dapat begitu saja melakukan review atau adendum karena perubahan tersebut akan berdampak pada perencanaan yang telah masuk dalam sistem kementerian.

“Kalau dilakukan review atau adendum, di sistem kementerian akan mengubah semua perencanaan dari awal. Hal ini tidak mungkin dilakukan mengingat waktu terus berjalan,” ujarnya.

Pada titik ini, revitalisasi sekolah memperlihatkan sisi lain yang jarang terlihat.

Membangun sekolah bukan hanya soal semen, pasir, besi, cat, dan bangunan yang berdiri.

Ada tanggung jawab besar di balik setiap bagian yang dikerjakan.

Menunggu Pintu-Pintu Kelas Kembali Penuh

Di lingkungan sekolah, semua proses itu akhirnya bermuara pada satu tujuan: anak-anak.

Kepala SMP Negeri 5 Karang Baru, Sulastri, S.Pd, kepada Wartawan mengungkapkan revitalisasi sebagai kesempatan untuk menghadirkan kembali suasana belajar yang lebih nyaman.

“Saat ini pengerjaan sudah memasuki tahap finishing. Alhamdulillah, pengerjaan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa kendala,” ujarnya, Minggu (29/8/2026).

Pekerjaan di dalam ruangan, kata dia, tinggal menyelesaikan sejumlah bagian. Begitu pula fasilitas di luar ruangan, termasuk pagar dan area lapangan.

Tetapi bagi Sulastri, selesainya bangunan bukanlah garis akhir.

Justru dari situlah pekerjaan berikutnya dimulai.

Ia ingin wajah baru sekolah dapat menghadirkan semangat baru bagi para guru dan peserta didik.

“Kami para tenaga pendidik sangat bersyukur dengan adanya kegiatan revitalisasi ini. Dengan kegiatan ini akan dapat menambah semangat baru bagi tenaga pendidik dan anak didik dalam proses belajar mengajar sehingga mutu sekolah akan lebih baik lagi,” katanya.

Bukan Sekadar Cat dan Bangunan Baru

Ada keyakinan bahwa lingkungan belajar yang lebih baik dapat memberi pengaruh terhadap semangat anak-anak.

Sekolah yang lebih nyaman diharapkan membuat siswa lebih betah. Fasilitas yang lebih layak diharapkan mendukung guru dalam menyampaikan pelajaran. Dan lingkungan yang tertata diharapkan menumbuhkan rasa bangga terhadap sekolah.

Bagi Sulastri, revitalisasi juga membuka peluang untuk menarik minat anak-anak di sekitar Karang Baru.

“Dengan hasil revitalisasi ini juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi anak sekitar untuk melanjutkan sekolahnya di sini,” ujarnya.

Harapan itu terdengar sederhana.

Namun bagi sebuah sekolah, bertambahnya anak yang memilih duduk di bangku kelas mereka berarti sesuatu yang penting.

Itu berarti ruang-ruang yang telah dibangun tidak sekadar menjadi bangunan kosong.

Ada suara anak-anak yang akan mengisinya.

Ada guru yang akan berdiri di depan kelas.

Ada buku yang akan dibuka.

Ada pertanyaan yang akan diajukan.

Dan ada cita-cita yang perlahan tumbuh di antara dinding sekolah.

Setelah Bangunan Selesai, Perjuangan Berlanjut

Revitalisasi pada akhirnya hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang pendidikan.

Bangunan dapat diperbaiki dalam hitungan bulan. Cat dapat diperbarui. Pagar dapat dibangun kembali. Ruang kelas dapat dibuat lebih nyaman.

Tetapi kualitas pendidikan tidak selesai bersamaan dengan selesainya proyek.

Ia membutuhkan guru yang terus belajar, siswa yang terus didorong untuk bermimpi, serta lingkungan yang membuat anak-anak merasa bahwa sekolah adalah tempat yang layak untuk memperjuangkan masa depan.

Karena itu, Sulastri berharap perubahan fisik sekolah menjadi pemantik bagi perubahan yang lebih besar.

“Kami berharap semoga dengan keadaan sekolah yang mulai membaik ini dapat menjadi motivasi dan minat anak untuk terus mengisi bangku di sekolah ini,” katanya.

Ia pun memastikan para tenaga pendidik akan terus memberikan kemampuan terbaik mereka.

“Kami para tenaga pendidik akan tetap mencurahkan semua ilmu demi kemajuan anak bangsa,” ujarnya.

Sore nanti, ketika aktivitas pembangunan berhenti dan lingkungan sekolah kembali lebih tenang, mungkin yang tersisa hanya bangunan yang belum sepenuhnya selesai.

Tetapi di balik dinding-dinding yang sedang diperbarui itu, ada sesuatu yang jauh lebih penting yang sedang dipersiapkan.

Bukan sekadar sekolah dengan bangunan baru.

Melainkan sebuah ruang untuk menumbuhkan kembali harapan.

Sebab pada akhirnya, revitalisasi sekolah bukan tentang seberapa baru sebuah bangunan, melainkan tentang seberapa besar harapan yang dapat tumbuh di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *