Oleh: Abdul Hadi – Portalnusa.com
BANDA ACEH — Jumat, 28 Agustus 2026, pukul 08.30 WIB. Hotel Diana Banda Aceh mendadak terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di sebuah ruangan, 28 wartawan duduk dengan wajah serius. Tak ada percakapan panjang. Tak ada tawa yang lepas. Yang terdengar hanya suara lembaran kertas dibalik, ketukan jemari, serta instruksi penguji yang sesekali memecah keheningan.
Hari itu, pengetahuan, pengalaman, bahkan harga diri sebagai wartawan seperti diletakkan di atas meja.
Bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk diuji.
Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh bekerja sama dengan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Pikiran Rakyat menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bagi insan pers di Aceh.
Dari 28 peserta, enam di antaranya mengikuti UKW jenjang Utama: Abdul Hadi, Didik Ardiansyah, Syawal, Masluddin, Jalal, dan Arman.
Kami duduk dalam satu ruangan.
Dan di hadapan kami berdiri seorang penguji yang sejak awal berhasil mengubah suasana menjadi jauh lebih serius: Refa Riana.
Namanya bukan asing di kalangan wartawan. Dalam UKW tersebut, Refa menjadi penguji untuk jenjang Utama. Sementara peserta lainnya mengikuti ujian jenjang Muda dan Madya.
Pertemuan pertama dengan Refa tidak berlangsung dengan basa-basi.
Justru sebuah kejadian kecil menjadi pembuka yang membuat kami berenam terdiam.
Sebuah Absen dan Teguran yang Membekas
Saat pengisian daftar hadir, terjadi kekeliruan.
Daftar hadir diserahkan kepada Masluddin dengan arahan agar setelah menandatangani segera diteruskan kepada peserta di sebelahnya. Namun karena posisi tempat duduk, daftar hadir itu justru disodorkan kepada rekan yang berada di depan.
Refa langsung menariknya.
Daftar hadir itu diremas, kemudian dilemparkan ke hadapan kami.
“Kalian pemberontak, ya?”
Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah ruangan.
Kami sontak terdiam.
Tak ada yang berani menoleh. Ketegangan yang sejak awal sudah terasa langsung berubah menjadi keheningan yang lebih pekat.
Dalam hati mungkin muncul satu pertanyaan:
Seberat inikah UKW jenjang Utama?
Jawabannya ternyata segera kami temukan.
Ketika Jam Menjadi Lawan
Mata uji pertama dimulai.
Soal diberikan. Waktu ditentukan.
Tak ada kompromi.
Kami dituntut berpikir cepat, cermat, dan tepat. Pengalaman bertahun-tahun berada di lapangan sebagai wartawan ternyata belum cukup untuk membuat seseorang bisa duduk santai di ruang ujian.
Sebab, di sana rutinitas diuji kembali.
Cara menggali informasi diuji.
Kemampuan memahami persoalan diuji.
Cara menulis berita diuji.
Ketelitian, etika, tanggung jawab, hingga kemampuan mengambil keputusan sebagai wartawan ikut dipertaruhkan.
Jam terus bergerak.
Sementara pekerjaan belum selesai.
Di titik itu kami mulai menyadari bahwa UKW bukan sekadar proses untuk memperoleh sertifikat kompetensi.
Ia seperti cermin.
Melalui ujian itu, kami dipaksa melihat kembali perjalanan panjang sebagai wartawan. Apa yang selama ini dianggap benar, kembali diperiksa. Apa yang selama ini menjadi kebiasaan, dipertanyakan.
Hari pertama terasa panjang.
Namun, ternyata itu baru awal.
Hari kedua datang dengan tubuh yang mulai lelah dan pikiran yang terkuras. Tetapi ujian tidak mengenal kata lelah.
Kami terus “dihajar”.
Kesalahan dikoreksi.
Kekurangan ditunjukkan.
Setiap pekerjaan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Di situlah kami mulai memahami: yang sedang diuji bukan hanya kemampuan teknis jurnalistik.
Mental kami juga sedang ditempa.
Galak, Tetapi Bukan untuk Menjatuhkan
Dua hari bersama Refa mungkin akan membuat kami mengenangnya sebagai penguji yang galak.
Namun, setelah seluruh rangkaian ujian dilewati, kesan itu perlahan berubah.
Di balik suara yang keras, instruksi yang tegas, dan koreksi tanpa kompromi, ada pesan yang jauh lebih besar: wartawan tidak boleh bekerja setengah hati.
Refa tidak sedang mencari kesalahan untuk menjatuhkan kami.
Ia justru sedang menunjukkan bahwa kesalahan sekecil apa pun dalam kerja jurnalistik harus mendapat perhatian.
Di ruang ujian, sebuah kekeliruan mungkin hanya menghasilkan koreksi.
Tetapi di lapangan, satu data yang salah dapat merugikan seseorang. Satu informasi yang tidak diverifikasi dapat menyesatkan publik. Satu keputusan yang mengabaikan etika dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap pers.
Karena itu, ketegasan tersebut perlahan menemukan maknanya.
Ada sebuah pesan yang terasa begitu kuat:
“Di sini tempat Anda mempertaruhkan ilmu wartawan yang selama ini Anda jalankan.”
Kalimat itu seperti tinggal lebih lama di kepala kami.
Sebab menjadi wartawan Utama bukan semata-mata persoalan kenaikan jenjang kompetensi.
Ada tanggung jawab yang ikut naik bersamanya.
Wartawan dituntut menjaga kualitas informasi, menjunjung etika, serta memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada titik inilah UKW terasa bukan lagi sekadar ujian.
Ia menjadi pengingat.
Ruang Ujian yang Berubah Menjadi Ruang Bercermin
Dua hari akhirnya berlalu.
Ruang hening Hotel Diana yang pada awalnya terasa menegangkan perlahan berubah menjadi ruang yang menyimpan banyak cerita.
Di tempat itu kami pernah ciut.
Kami pernah panik mengejar waktu.
Kami pernah menemukan kekurangan yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Tetapi di tempat yang sama pula kami belajar satu hal penting:
Pengalaman panjang tidak boleh membuat seorang wartawan berhenti belajar.
Ketika hasil ujian diumumkan dan kami dinyatakan lulus serta kompeten sebagai Wartawan Utama, rasa haru sulit disembunyikan.
Ada bahagia.
Ada lega.
Ada pula kesunyian sesaat setelah ketegangan panjang akhirnya berakhir.
Sebab di balik hasil yang manis itu, ada proses yang tidak ringan.
Dan di balik proses itu, ada seorang penguji yang selama dua hari mungkin kami anggap terlalu keras.
Kini, justru ada satu kalimat yang ingin disampaikan:
Terima kasih, Pak Refa Riana.
Bukan Sekadar Lulus
Dua hari itu mengajarkan sesuatu yang mungkin tidak tertulis dalam lembar soal.
Bahwa menjadi wartawan bukan sekadar mampu menulis berita.
Bukan pula sekadar cepat menemukan peristiwa, menyusun paragraf, kemudian mengejar tenggat.
Menjadi wartawan berarti berani bertanggung jawab atas setiap kata, data, informasi, dan keputusan jurnalistik yang dilahirkan.
Predikat Wartawan Utama bukanlah garis akhir.
Justru ia bisa menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Sebab semakin tinggi kompetensi seorang wartawan, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga kepercayaan publik.
Dua hari Refa menempa kami.
Dua hari itu pula kami kembali bercermin: benarkah kami layak menyandang predikat Wartawan Utama?
Kini jawabannya sudah kami dapatkan.
Ujian yang berat akhirnya menghadirkan rasa manis.
Dan kelak, ketika mengingat kembali Jumat dan Sabtu di penghujung Agustus 2026 itu, mungkin yang paling melekat bukanlah lembar soal, batas waktu, atau teguran keras di ruang ujian.
Melainkan sebuah pelajaran sederhana:
wartawan boleh lelah, boleh gugup, bahkan boleh salah. Tetapi tidak boleh berhenti belajar dan tidak boleh berhenti bertanggung jawab.
Ruang sunyi Hotel Diana itu akhirnya bukan sekadar tempat kami diuji.
Ia menjadi tempat kami ditempa.
Tempat enam wartawan kembali mengukur diri.
Dan tempat kami belajar bahwa di balik sebuah predikat Wartawan Utama, selalu ada tanggung jawab besar untuk menjaga martabat profesi dan kepercayaan publik.






