Di Balik Seragam Polisi, Ada Rumah-Rumah Harapan yang Dibangun Aipda Jonni Rahmad

Headline, Ragam78 Dilihat

BANDA ACEH — Bagi Aipda Jonni Rahmad, seragam cokelat yang dikenakannya bukan sekadar penanda profesi. Di balik seragam itu, ia melihat tanggung jawab yang lebih luas: hadir ketika warga membutuhkan, berbagi ketika memiliki, dan membantu tanpa menunggu diminta.

Di tengah rutinitas sebagai anggota Polri, Jonni memilih mengisi sebagian waktunya dengan aksi-aksi sosial. Ia mendatangi warga yang kesulitan, menyambangi anak-anak terdampak bencana, membantu biaya pengobatan hingga ikut membangun rumah bagi keluarga kurang mampu.

banner 400x130 banner 400x130 banner 400x130

Bagi Jonni, pengabdian tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar. Terkadang, sebuah bantuan sederhana justru menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang yang menerimanya.

Polisi kelahiran 15 Maret 1986 itu kini bertugas sebagai Ps. Kasium Polsek Panteraja, Polres Pidie Jaya, Polda Aceh. Sejak menyelesaikan pendidikan Diktukba Polri pada 2005, ia mengabdikan diri di Korps Bhayangkara.

Perjalanan pengabdiannya juga dibarengi sejumlah pendidikan dan penghargaan. Jonni pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan penyegaran bendahara pengeluaran pada 2015.

Ia menerima Satyalancana Pengabdian 8 Tahun pada 2013 dan Satyalancana Pengabdian 16 Tahun pada 2021. Sejumlah penghargaan lain juga pernah diterimanya, antara lain dari Kapolres Pidie pada 2017, Kapolres Pidie Jaya pada 2020, Asisten SDM Polri dan Kapolda Aceh pada 2021, serta Kepala SPN Polda Aceh pada 2022.

Namun, bagi Jonni, penghargaan yang tertera dalam daftar riwayat pengabdiannya bukanlah ukuran utama dari apa yang ia lakukan.

Ada ukuran lain yang menurutnya jauh lebih sederhana: senyum anak-anak, keluarga yang kembali memiliki tempat tinggal layak, atau seseorang yang akhirnya mendapat kesempatan untuk berobat.

Ketika Banjir Membawa Keterbatasan

Akhir 2025 menjadi salah satu momentum yang memperlihatkan sisi lain pengabdian Jonni.

Ketika banjir melanda sejumlah wilayah dan memaksa banyak keluarga bertahan dalam keterbatasan, ia memilih mendatangi anak-anak yang terdampak. Bukan sekadar membawa bantuan kebutuhan sehari-hari, Jonni membawa Iqra dan Al-Qur’an.

Di tengah situasi bencana, ia ingin anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar dan mengaji. Bagi Jonni, musibah tidak semestinya membuat pendidikan dan aktivitas keagamaan mereka terhenti.

Kepedulian serupa ia tunjukkan menjelang Idulfitri. Sebagian rezekinya disisihkan untuk membelikan pakaian Lebaran bagi anak-anak yatim piatu.

Pada kesempatan lain, ia juga membantu seorang anak yang menderita kebocoran jantung agar dapat menjalani pengobatan di Jakarta.

Bagi Jonni, membantu tidak harus menunggu seseorang memiliki kelebihan yang berlimpah. Sedikit yang diberikan dengan ketulusan bisa memiliki arti besar bagi orang lain.

Empat Rumah Dibangun, Tiga Direhabilitasi

Dari berbagai bentuk kepeduliannya, ada satu langkah yang menjadi catatan tersendiri: Jonni menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu membangun rumah bagi keluarga fakir miskin.

Hingga kini, empat rumah telah dibangunnya. Tiga rumah lainnya direhabilitasi agar kembali layak dihuni.

Rumah-rumah tersebut mungkin tidak berdiri dengan kemewahan. Namun, bagi keluarga yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan, sebuah rumah yang kokoh berarti jauh lebih besar daripada sekadar dinding, atap, dan lantai.

Di sana ada rasa aman. Ada tempat anak-anak tumbuh. Ada ruang bagi keluarga untuk beristirahat tanpa terus dihantui kekhawatiran terhadap kondisi tempat tinggal.

Jonni memilih membantu dari apa yang dimilikinya. Tidak ada panggung besar, tidak ada seremoni yang menjadi tujuan utama. Yang ingin ia lihat adalah keluarga penerima bantuan dapat menjalani kehidupan dengan sedikit lebih baik.

Pengabdian yang Tak Berhenti di Jam Dinas

Jonni menyadari bahwa tugas sebagai polisi memiliki batas-batas kedinasan. Namun, menurutnya, kepedulian kepada masyarakat tidak harus berhenti ketika jam kerja selesai.

“Semua yang saya lakukan bukan untuk mencari popularitas atau dikenal banyak orang. Ini murni karena keinginan untuk membantu sesama. Sebagai anggota Polri, saya merasa wajib untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama ketika ada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Jonni, alumni SMK Negeri 2 Sigli, saat diwawancarai media ini, Selasa (25/8/2026).

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang cara Jonni memaknai profesinya.

Baginya, menjadi polisi bukan hanya tentang menjaga keamanan dan ketertiban. Ada sisi kemanusiaan yang juga harus dirawat: mendengar keluhan warga, melihat kesulitan mereka, kemudian berusaha melakukan sesuatu sesuai kemampuan.

Apa yang dilakukan Jonni menunjukkan bahwa pengabdian dapat tumbuh dari tindakan-tindakan sederhana. Dari menyisihkan sebagian penghasilan, membeli pakaian untuk anak yatim, membawa Iqra ke tengah masyarakat terdampak banjir, membantu pengobatan, hingga membangun rumah bagi keluarga yang membutuhkan.

Semua itu mungkin tidak selalu masuk dalam laporan tugas kedinasan. Tetapi bagi orang-orang yang menerima manfaatnya, tindakan tersebut meninggalkan arti yang jauh lebih panjang.

Di balik seragam cokelatnya, Jonni memilih sebuah cara sederhana untuk mengabdi: hadir, berbagi, dan memberi manfaat.

Sebab, menurutnya, menjaga masyarakat bukan hanya memastikan mereka aman dari gangguan keamanan. Lebih dari itu, pengabdian juga berarti memastikan mereka yang sedang berada dalam kesulitan tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *