Dari Lumpur Menjadi Harapan: Satgas PRR Aceh Bangkitkan Kembali Sawah dan Asa Petani Aceh Tamiang

Ekonomi, Headline78 Dilihat

ACEH TAMIANG – Enam bulan lalu, hamparan sawah di Kabupaten Aceh Tamiang berubah menjadi lautan lumpur. Bencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir November 2025 tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan ribuan petani.

Lumpur tebal yang menutupi lahan pertanian seolah mengubur harapan masyarakat untuk kembali bercocok tanam. Namun, di tengah keterpurukan itu, secercah harapan hadir melalui kerja cepat dan terukur yang dilakukan Satuan Tugas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (Satgas PRR) Aceh.

banner 400x130

Kini, enam bulan berselang, pemandangan berbeda tersaji di sejumlah kawasan pertanian Aceh Tamiang. Hamparan hijau tanaman padi kembali menghiasi lahan yang sebelumnya tertutup lumpur. Aktivitas pertanian kembali menggeliat, menandai bangkitnya roda perekonomian masyarakat pascabanjir.

Strategi Cepat Pulihkan Ribuan Hektare Sawah

Memulihkan ribuan hektare lahan pertanian yang rusak akibat bencana bukan pekerjaan mudah. Untuk mempercepat proses pemulihan, Satgas PRR Aceh menerapkan strategi dua lapis berdasarkan tingkat kerusakan lahan.

Untuk kategori lahan rusak sedang, rehabilitasi dipercayakan kepada Kodim 0117/Aceh Tamiang dengan target penanganan seluas 712 hektare. Program ini didukung anggaran sebesar Rp13,5 juta per hektare guna mempercepat pembersihan material lumpur menggunakan alat berat.

Hasilnya mulai terlihat. Hingga pertengahan Juni 2026, pembersihan telah berhasil dilakukan pada 428,28 hektare lahan. Bahkan di Kecamatan Manyak Payed, sebanyak 66 hektare sawah yang telah dibersihkan kini sudah kembali ditanami padi.

Sementara itu, untuk kategori lahan rusak ringan, Satgas PRR Aceh menjalankan Program Optimalisasi Lahan (Oplah) dengan target 1.961 hektare. Melalui program ini, kelompok tani diberdayakan secara langsung untuk melakukan pemulihan lahan secara mandiri dengan dukungan bantuan stimulan sebesar Rp4,6 juta per hektare.

Pendekatan tersebut tidak hanya mempercepat rehabilitasi lahan, tetapi juga membangkitkan kembali semangat gotong royong dan rasa memiliki masyarakat terhadap lahan pertanian mereka.

Irigasi Pompa Jadi Kunci Keberlanjutan

Satgas PRR Aceh menyadari bahwa pemulihan lahan hanyalah langkah awal. Keberhasilan panen juga bergantung pada ketersediaan air yang memadai.

Untuk itu, sebanyak 70 titik Bantuan Irigasi Pompa (Irpop) disalurkan ke sejumlah kawasan pertanian terdampak. Program ini dirancang untuk menjaga pasokan air secara berkelanjutan, terutama saat memasuki musim kemarau.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perlintan, Irwan Hadi, SP., menegaskan bahwa program pemulihan pascabanjir harus dilakukan secara menyeluruh.

“Ini merupakan program hulu hingga hilir. Kami fokus membersihkan lahan agar masyarakat dapat kembali bertani secepat mungkin, sekaligus memastikan dukungan infrastruktur seperti irigasi pompa tersedia untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian,” ujarnya.

Harapan Kembali Tumbuh di Tengah Sawah

Dampak program pemulihan ini dirasakan langsung oleh para petani. Di Kampung Matang Tepah, Kecamatan Bendahara, senyum mulai kembali menghiasi wajah warga yang sempat kehilangan harapan akibat bencana.

Abd Salam (43), salah seorang petani setempat, mengaku bersyukur karena kini dapat kembali mengolah sawah yang menjadi sumber utama penghidupan keluarganya.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya program pembersihan sawah ini. Sekarang kami sudah bisa menanam padi lagi. Hidup kami kembali bergairah karena dari sawah inilah kami mencari nafkah. Terima kasih kepada Satgas PRR yang telah peduli dan membantu membersihkan sawah kami,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Tepah Jaya, Erwinsyah. Menurutnya, Satgas PRR Aceh tidak hanya menghadirkan bantuan fisik, tetapi juga memberikan pendampingan dan motivasi yang membangkitkan semangat petani untuk bangkit dari keterpurukan.

Model Pemulihan Pascabencana yang Patut Dicontoh

Keberhasilan pemulihan sektor pertanian di Aceh Tamiang menjadi contoh nyata bagaimana penanganan pascabencana dapat dilakukan secara cepat, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Sinergi antara pemerintah, TNI, dan kelompok tani terbukti mampu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat. Ditambah dukungan infrastruktur melalui program irigasi pompa, upaya rehabilitasi tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di masa depan.

Dari hamparan lumpur yang sempat memupus harapan, kini tumbuh kembali padi-padi hijau yang membawa optimisme baru. Aceh Tamiang sedang menulis kisah kebangkitannya sendiri—kisah tentang ketangguhan masyarakat, kerja nyata, dan semangat yang tak pernah menyerah menghadapi bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *