Langkah-langkah kecil itu berbaris rapi di halaman Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh Tamiang. Sebagian menggenggam tangan ibunya, sebagian lain tersenyum malu. Ada yang menyapa dengan suara lirih, ada pula yang memilih berbicara lewat gerak tangan.
Pagi itu, tanggal 23 Juli 2027 Hari Anak Nasional 2026 bukan sekadar peringatan tahunan.
Ia menjelma menjadi panggung yang memperlihatkan satu kenyataan sederhana: setiap anak, apa pun kondisinya, memiliki hak yang sama untuk didengar.
Ketika rombongan tamu tiba, seorang pria berbatik menghampiri anak-anak. Sebelum mengucapkan sepatah kata, ia lebih dulu mengangkat kedua tangannya, menyusun jemari dalam bahasa isyarat yang baru dipelajarinya.
Senyum anak-anak langsung merekah.
Tak ada tepuk tangan. Tak ada sorak-sorai.
Yang terdengar hanyalah tawa kecil dan mata-mata yang berbinar karena merasa dimengerti.
Pria itu adalah Field Manager Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah. Ia sengaja belajar bahasa isyarat sebelum datang. Sebuah gestur sederhana yang hari itu terasa jauh lebih bermakna daripada seremoni apa pun.
Di aula sekolah, 120 anak berkebutuhan khusus bersama orang tua dan para guru menikmati Hari Anak Nasional dengan cara mereka sendiri. Ada yang mewarnai gambar dengan penuh konsentrasi. Ada yang menari tanpa memedulikan siapa yang menonton. Ada pula yang melangkah percaya diri di atas panggung dalam balutan busana sederhana, seolah sedang berada di panggung peragaan busana kelas dunia.
Tak satu pun dari mereka sedang meminta belas kasihan.
Mereka hanya sedang menunjukkan siapa diri mereka.
Di sela acara, Tomi menyampaikan sebuah kalimat yang menggema di ruangan itu.
“Setiap anak adalah lentera bagi kehidupan dan bangsa ini.”
Kalimat itu bukan sekadar pidato.
Selama beberapa tahun terakhir, Pertamina EP Rantau Field terus mendampingi SLBN Pembina Aceh Tamiang melalui berbagai Program Pengembangan Masyarakat (PPM), mulai dari menghadirkan ruang belajar yang lebih ramah, meningkatkan kapasitas guru, hingga membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka.
Bagi perusahaan energi itu, keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga produksi minyak dan gas bumi, tetapi juga memastikan harapan tetap menyala di tengah masyarakat.
Namun, pagi itu, seluruh perhatian akhirnya tertuju kepada seorang bocah.
Namanya Sayed Rahmad Tuikram.
Dengan langkah pelan, ia naik ke atas panggung sambil menggenggam mikrofon.
Sayed adalah seorang tunanetra.
Begitu musik mengalun, ia mulai menyanyikan lagu Ayah.
Suaranya mengisi seluruh ruangan.
Lembut.
Jernih.
Menusuk.
Tak sedikit tamu undangan yang menundukkan kepala. Beberapa menyeka air mata yang tak sempat mereka tahan.
Bagi Sayed, lagu itu bukan sekadar lagu.
Ia kehilangan ayahnya ketika baru berusia enam tahun. Penyakit kelenjar getah bening merenggut sosok yang paling ia rindukan. Sejak saat itu, kerinduan sering ia titipkan melalui lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Hari itu, ia menitipkan rindu yang sama melalui sebuah lagu.
Tak ada yang melihat air matanya.
Tetapi semua orang mendengar isi hatinya.
Di balik keterbatasan penglihatannya, Sayed justru mampu memperlihatkan sesuatu yang kadang luput dari banyak orang: kekuatan untuk bangkit.
Lingkungan belajar yang inklusif di SLBN Pembina Aceh Tamiang membantunya menemukan jalan. Dari sekolah itulah ia tumbuh menjadi Juara I Vokal Solo Putra Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Provinsi Aceh.
Prestasi itu bukan semata kemenangan pribadi.
Ia adalah bukti bahwa kesempatan mampu mengalahkan keterbatasan.
Di sudut lain ruangan, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus TP Posyandu Provinsi Aceh, Marlina Muzakir, tampak menyimak dengan mata berkaca-kaca.
Saat berbicara, ia tak sekadar memberi sambutan.
Ia sedang membuka luka yang pernah ia rawat bertahun-tahun.
Allah, katanya, pernah menitipkan seorang anak berkebutuhan khusus dalam hidupnya. Ia menjadi ibu, guru, sekaligus sahabat bagi anak itu hingga akhirnya sang buah hati berpulang pada usia 23 tahun.
Karena pengalaman itulah, ia memahami perjuangan para orang tua yang hadir pagi itu.
Ia tahu bagaimana rasanya mengajarkan satu huruf berulang kali.
Ia tahu bagaimana rasanya menunggu satu kemajuan kecil yang bagi orang lain tampak biasa, tetapi bagi seorang ibu terasa seperti kemenangan besar.
“Saya memahami ibu-ibu semua,” tuturnya lirih.
Kalimat sederhana itu membuat banyak orang tua merasa tidak sedang berjalan sendirian.
Di penghujung acara, tepuk tangan kembali menggema.
Namun, tepuk tangan itu bukan semata untuk penampilan seni, lomba mewarnai, atau fashion show.
Tepuk tangan itu adalah penghormatan bagi anak-anak yang setiap hari mengajarkan arti ketekunan.
Penghormatan bagi para guru yang sabar mendampingi.
Penghormatan bagi para orang tua yang tak pernah menyerah.
Dan penghormatan bagi siapa pun yang memilih melihat kemampuan, bukan keterbatasan.
Hari Anak Nasional di SLBN Pembina Aceh Tamiang akhirnya meninggalkan satu pesan yang terus bergema jauh setelah panggung dibongkar.
Bahwa masa depan tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik.
Masa depan tumbuh dari kesempatan, kasih sayang, dan keberanian untuk percaya bahwa setiap anak—apa pun keadaannya—berhak bermimpi setinggi langit.
Sebab di mata mereka, dunia mungkin terlihat berbeda.
Tetapi harapan, selalu memiliki cahaya yang sama.











