Dari Lumpur Banjir Menuju Panen Harapan: Perjuangan Abdul Rozzaq Bangkit Bersama Lahan Cabainya

Berita188 Dilihat

ACEH TAMIANG – Di hamparan lahan cabai seluas 1,8 hektare di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, tersimpan kisah perjuangan seorang kepala keluarga yang berusaha bangkit dari keterpurukan akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada November 2025.

Abdul Rozzaq Mubaroq (38), petani yang akrab disapa Rozzaq, tak mampu menahan haru saat mengenang musibah yang menghancurkan sumber penghidupan keluarganya. Di tengah aktivitasnya merawat tanaman cabai yang kini mulai tumbuh subur, ia kembali mengingat bagaimana banjir kala itu meluluhlantakkan lahan pertanian yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.

banner 400x130 banner 400x130

Banjir bandang yang menerjang Kampung Tanjung Seumantoh menyapu habis tanaman dan peralatan pertanian miliknya. Lumpur dan tumpukan sampah menutupi lahan hingga puluhan sentimeter, menyisakan ketidakpastian bagi masa depan keluarganya.

“Ketika pertama kali melihat kondisi lahan setelah banjir, saya benar-benar bingung harus memulai dari mana. Saya hanya memikirkan bagaimana bisa memberi makan anak dan istri. Setiap malam saya memandangi wajah mereka, dan saat itu rasa sedih, bingung, serta gelisah bercampur menjadi satu,” tutur Rozzaq dengan mata berkaca-kaca.

Namun, di tengah kesulitan yang dihadapi, Rozzaq memilih untuk tidak menyerah. Tatapan penuh harapan dari anak dan istrinya menjadi sumber kekuatan yang mendorongnya untuk bangkit dan memulai kembali kehidupan dari titik nol.

Setiap hari ia mendatangi lahannya yang masih tertutup lumpur. Meski belum banyak yang bisa dilakukan, ia terus berusaha mencari jalan keluar agar dapat kembali bertani.

“Saya mulai belajar lagi. Membaca jurnal pertanian, mencari referensi di internet, hingga menonton berbagai video di YouTube tentang pengelolaan lahan pascabanjir. Saya ingin menemukan cara agar lahan ini bisa produktif kembali,” ujarnya.

Perjuangan itu tidak mudah. Lumpur sisa banjir yang mencapai ketebalan sekitar 30 sentimeter membuat proses pemulihan lahan berlangsung lambat dan melelahkan. Meski harus menghadapi panas terik, rasa lapar, haus, dan kelelahan, Rozzaq tetap bertahan.

“Saya tidak ingin berleha-leha. Kehidupan terus berjalan, dan saya harus terus berusaha,” katanya.

Setelah kondisi lahan mulai memungkinkan, Rozzaq menyewa traktor untuk meratakan tanah. Lahan tersebut kemudian didiamkan selama beberapa bulan sebelum kembali ditanami. Ia meyakini bahwa material lumpur yang terbawa banjir masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya tanaman hortikultura.

Harapan baru mulai tumbuh ketika Rozzaq bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Muda menerima dukungan dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina EP Rantau Field.

Melalui program tersebut, para petani memperoleh bantuan berupa restorasi lahan, sarana produksi pertanian, 6.000 bibit cabai, 500 bibit tomat, serta berbagai dukungan lainnya. Secara keseluruhan, bantuan yang disalurkan mencapai sekitar 10.000 bibit tanaman hortikultura.

“Alhamdulillah, dari total 1,8 hektare lahan yang kami miliki, sebanyak 21 rante sudah kembali ditanami. Ada 13 rante cabai rawit, lima rante cabai merah, dan tiga rante sawi. Untuk sawi bahkan sudah berhasil dipanen. Dukungan dari Pertamina EP Rantau Field sangat membantu kami untuk kembali memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkap Rozzaq.

Bagi Rozzaq, tumbuhnya kembali tanaman cabai di lahannya bukan sekadar keberhasilan bercocok tanam. Lebih dari itu, tanaman-tanaman tersebut menjadi simbol harapan dan keteguhan untuk bangkit dari bencana yang pernah menghancurkan kehidupannya.

Sementara itu, Manager Community Involvement Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu aspek yang harus menjadi prioritas dalam proses pemulihan pascabencana, mengingat banyak masyarakat menggantungkan kehidupan mereka pada hasil pertanian.

“Pertamina hadir untuk mendukung proses pemulihan para petani di sekitar wilayah operasi. Kami berharap bantuan yang diberikan dapat membantu para penyintas banjir kembali menjalankan aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

Menurutnya, Pertamina akan terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang inovatif dan berkelanjutan. Melalui dukungan tersebut, para petani binaan diharapkan mampu kembali memperoleh sumber pendapatan sekaligus mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Kini, di antara deretan tanaman cabai yang mulai menghijau, Rozzaq kembali menatap masa depan dengan optimisme. Dari lahan yang pernah tertimbun lumpur, tumbuh harapan baru bagi dirinya, keluarga, dan para petani penyintas banjir lainnya di Aceh Tamiang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *