Menggali Pondasi Harapan: Kisah Murkidi dan Sentuhan TMMD di Desa Suka Makmur

Bencana, Nasional56 Dilihat

Pagi itu, tanah di halaman rumah Murkidi mulai terbuka. Sekop-sekop prajurit menembus kerasnya bumi, menggali bukan sekadar pondasi, tetapi juga harapan yang lama terpendam. Di Desa Suka Makmur, Sabtu (25/04/2026), derap langkah Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Kodim 0117/Aceh Tamiang menjadi tanda bahwa perubahan tengah dimulai.

Rumah sederhana milik Murkidi, yang selama ini jauh dari kata layak, kini menjadi salah satu sasaran program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Dinding kayu yang lapuk, atap yang renta, serta lantai yang tak lagi kokoh, perlahan akan berganti menjadi hunian yang lebih aman dan sehat.

Hari itu, proses dimulai dari bawah—penggalian pondasi. Tahap awal yang mungkin terlihat sederhana, namun menjadi dasar dari segala perubahan yang akan berdiri di atasnya. Para prajurit, dengan seragam loreng yang mulai basah oleh keringat, bekerja tanpa ragu. Di tengah panas yang menyengat, mereka tetap fokus, seolah tahu bahwa setiap ayunan sekop membawa arti besar bagi sebuah keluarga.

Program rehab RTLH dalam TMMD bukan hanya tentang membangun rumah, tetapi juga membangun kesadaran. Kesadaran akan pentingnya tempat tinggal yang layak, sehat, dan aman. Sekaligus menjadi stimulan bagi masyarakat kurang mampu agar memiliki kesempatan memperbaiki kualitas hidupnya.

Di sela aktivitas itu, Murkidi berdiri memperhatikan. Wajahnya menyiratkan campuran rasa haru dan bahagia. Baginya, ini bukan sekadar bantuan, melainkan kepedulian yang nyata—hadir langsung di depan mata.

“Terima kasih kepada Pak Dandim dan anggotanya yang telah rela menyumbangkan tenaga. Meski berpanas-panasan, tetap semangat membangun rumah kami,” ucapnya, dengan suara yang sederhana namun sarat makna.

Apa yang dilakukan Satgas TMMD di Desa Suka Makmur adalah potret kecil dari kerja besar yang lebih luas—menghubungkan negara dengan rakyatnya melalui tindakan nyata. Dari menggali pondasi hingga mendirikan dinding, semuanya adalah bagian dari upaya menghadirkan kehidupan yang lebih layak.

Dan di atas tanah yang kini mulai terbuka itu, sebuah rumah baru akan berdiri. Bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai simbol bahwa harapan, sekecil apa pun, selalu bisa dibangun kembali—selama ada kepedulian dan kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *