ACEH TAMIANG — Ketika bencana datang dan jaringan komunikasi publik terputus, informasi menjadi sesuatu yang sama pentingnya dengan bantuan. Dalam situasi seperti itu, suara dari radio dapat menjadi penghubung antara warga di lapangan, pemerintah, dan tim penyelamat.
Peran tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, terhadap Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Menurut Armia, relawan komunikasi memiliki peran strategis dalam memastikan informasi tetap mengalir ketika infrastruktur komunikasi mengalami gangguan.
Apresiasi itu disampaikan Armia saat menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-VI RAPI Aceh Tamiang di Syabab Kopi, Kecamatan Karang Baru, Sabtu (8/8/2026).
“Pemerintah daerah menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas dedikasi para relawan RAPI yang bekerja tanpa pamrih,” kata Armia.
Ketika Jaringan Terputus, Radio Tetap Menyala
Armia kemudian mengingat kembali situasi genting ketika banjir besar melanda Aceh Tamiang pada 2025.
Saat itu, kata dia, akses komunikasi dari daerah terdampak sempat terputus selama beberapa hari. Kondisi tersebut membuat penyampaian informasi dan koordinasi bantuan menghadapi tantangan besar.
Di tengah keterbatasan itu, relawan komunikasi dari RAPI bersama Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) mengambil peran penting. Jaringan radio menjadi salah satu sarana untuk membuka kembali jalur informasi dari wilayah yang terisolasi.
Informasi mengenai kondisi masyarakat di lapangan dapat diteruskan kepada pihak terkait sehingga koordinasi penanganan dan penyaluran bantuan kemanusiaan dapat dilakukan.
Pengalaman tersebut, menurut Armia, menunjukkan bahwa teknologi komunikasi konvensional masih memiliki posisi penting dalam sistem penanggulangan bencana.
Bagi pemerintah daerah, keberadaan relawan komunikasi bukan sekadar pelengkap. Mereka menjadi bagian dari jejaring kebencanaan yang dapat bergerak ketika sistem komunikasi utama tidak berfungsi.
Karena itu, Armia berharap Muswil ke-VI RAPI Aceh Tamiang dapat melahirkan kepemimpinan baru yang solid sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah.
“Semoga RAPI terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh Tamiang,” ujarnya.
Radio dan Ketangguhan di Tengah Era Digital
Ketua RAPI Daerah Aceh, H. Rahmat Thalib, menilai jaringan radio frekuensi tetap memiliki keunggulan tersendiri dalam kondisi darurat.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan komunikasi berbasis internet, radio komunikasi masih dapat menjadi pilihan ketika jaringan seluler maupun infrastruktur digital mengalami gangguan akibat bencana.
Menurut Rahmat, kecepatan informasi dari lapangan sangat menentukan keberhasilan koordinasi penanganan bencana. Informasi yang diterima lebih awal dapat membantu berbagai lembaga mengambil keputusan secara lebih cepat.
Koordinasi tersebut tidak hanya melibatkan pemerintah daerah, tetapi juga lembaga terkait seperti Basarnas dan unsur penanggulangan bencana lainnya.
Dengan jaringan relawan yang tersebar di berbagai wilayah, RAPI diharapkan mampu menjadi salah satu mata dan telinga dalam situasi darurat.
Pengabdian yang Tak Banyak Bicara
Sementara itu, Ketua RAPI Aceh Tamiang periode 2022–2026, Salbiah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus dan instansi yang selama ini mendukung kegiatan RAPI.
Ia menggambarkan pengabdian relawan komunikasi seperti bunga mawar yang tidak membutuhkan propaganda untuk menyebarkan keharumannya.
“Ibarat bunga mawar, ia tidak perlu propaganda untuk menyebarkan harumnya. Kebaikan dan pengabdian akan terasa dengan sendirinya di tengah masyarakat,” ungkap Salbiah.
Pernyataan itu sekaligus menggambarkan karakter kerja relawan komunikasi yang kerap berlangsung tanpa sorotan. Mereka bekerja di balik layar, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.
Muswil empat tahunan RAPI Aceh Tamiang pun tidak sekadar menjadi agenda organisasi untuk memilih kepengurusan baru. Forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran relawan komunikasi dalam mitigasi dan penanganan bencana.
Terlebih, Aceh Tamiang merupakan salah satu daerah yang memiliki pengalaman menghadapi bencana besar. Pengalaman banjir 2025 memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya membutuhkan personel dan logistik, tetapi juga sistem komunikasi alternatif yang dapat tetap bekerja ketika infrastruktur utama mengalami gangguan.
Muswil ke-VI tersebut dihadiri Ketua RAPI Daerah Aceh H. Rahmat Thalib, Ketua RAPI Aceh Tamiang masa bakti 2022–2026 Salbiah, Ketua PWI Aceh Nasir Nurdin, serta unsur Forkopimda. Hadir pula jajaran pengurus RAPI dari Sumatera Utara, Langsa, dan Aceh Timur.
Bagi Aceh Tamiang, menjaga radio tetap mengudara berarti menjaga satu jalur komunikasi tetap terbuka. Sebab ketika jaringan terputus dan akses informasi menjadi mahal, suara dari radio bisa menjadi awal datangnya pertolongan.







