Pesan tersebut disampaikan Bupati Armia saat membuka Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan ke-13 di Aula Ma’had Aly, Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, Selasa (14/7/2026).
Di hadapan 30 peserta yang mengikuti program kaderisasi tersebut, Armia menegaskan bahwa para calon ulama muda memiliki tanggung jawab besar ketika nantinya terjun ke tengah masyarakat. Salah satu amanah yang ditekankannya adalah pentingnya memberikan edukasi mengenai penggunaan media sosial yang santun dan berlandaskan nilai-nilai agama.
“Saya berpesan kepada 30 calon ulama muda yang nantinya akan turun ke lapangan. Saat berdakwah nanti, tolong selipkan edukasi tentang cara bermedia sosial yang baik dan sopan, dengan tetap menyisipkan dasar-dasar nilai keagamaan,” ujar Armia.
Ia menilai, masyarakat Aceh Tamiang sejak dahulu dikenal menjunjung tinggi adat dan budaya yang sarat dengan nilai kesopanan. Namun, perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola interaksi masyarakat, sehingga media sosial kini menjadi ruang publik baru yang membutuhkan sentuhan dakwah.
Menurut Armia, kehadiran para ulama muda di dunia digital menjadi penting untuk menjaga nilai-nilai luhur tersebut agar tetap hidup di tengah derasnya arus informasi.
Selain menyoroti etika bermedia sosial, Bupati Armia juga meminta para kader ulama untuk mengambil peran dalam proses pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Tamiang. Ia berharap para peserta PKU mampu menjadi penguat spiritual dan memberikan ketenangan bagi masyarakat yang tengah bangkit dari keterpurukan.
“Sampaikan juga pesan kepada masyarakat untuk tetap bersabar dan terus berdoa agar kita semua bisa segera pulih dari dampak bencana alam ini,” katanya.
Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tamiang, Syahrizal Darwis, menegaskan bahwa program kaderisasi tersebut merupakan langkah strategis untuk mencetak ulama yang kompeten, berintegritas, dan siap menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, sosok ulama yang berkualitas tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.
“Untuk melahirkan ulama yang berkualitas, tentu dibutuhkan wadah pengkaderan yang baik. Salah satu upaya nyata yang kami lakukan adalah melalui program PKU ini,” ujar Syahrizal.
Program Pendidikan Kader Ulama Angkatan ke-13 berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan sejumlah pemateri yang berpengaruh di Aceh Tamiang. Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta diharapkan tidak berhenti pada tataran teori, melainkan segera turun ke desa-desa untuk menyebarluaskan ilmu yang diperoleh.
Melalui penguatan dakwah digital dan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan, pemerintah daerah berharap para ulama muda dapat menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang santun, religius, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan, termasuk pemulihan pascabencana.
Post Views: 109