Penanganan Bencana Jadi Ruang Belajar Nasional, Aceh Tamiang Tunjukkan Kepemimpinan di Tengah Pemulihan

Berita119 Dilihat

ACEH TAMIANG — Di tengah upaya bangkit dari dampak bencana hidrometeorologi yang melanda ribuan warga, Kabupaten Aceh Tamiang justru menjelma menjadi ruang pembelajaran nasional tentang kepemimpinan, solidaritas, dan ketangguhan daerah.

Hal itu terlihat saat Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, secara resmi membuka Kegiatan Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan II Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Aula Setdakab, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan puluhan peserta PKN dari berbagai instansi pusat dan daerah di Provinsi Jawa Timur untuk belajar langsung mengenai tata kelola penanganan bencana dan proses pemulihan daerah yang sedang berlangsung di Aceh Tamiang.

Dalam sambutannya, Bupati Armia Pahmi menyampaikan apresiasi atas kehadiran rombongan peserta visitasi yang dinilai membawa semangat baru bagi masyarakat Aceh Tamiang yang tengah berjuang memulihkan kondisi pascabencana.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan masyarakat, kami mengucapkan selamat datang. Kehadiran bapak dan ibu di daerah ini diharapkan dapat mempererat hubungan antardaerah serta menjadi motivasi bagi kami untuk bangkit dan semakin kuat,” ujar Armia.

Ia menegaskan, pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan anggaran dan infrastruktur, tetapi juga kepemimpinan yang mampu bergerak cepat, adaptif, dan berpihak kepada masyarakat.
Menurutnya, bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Tamiang telah berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Lebih dari 310 ribu jiwa atau sekitar 75 ribu kepala keluarga di 216 kampung dan 12 kecamatan terdampak dalam peristiwa tersebut.

“Penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kepemimpinan yang komprehensif, holistik dan integratif, mulai dari mitigasi, tanggap darurat hingga rekonstruksi. Di sinilah kepemimpinan adaptif berbasis empati benar-benar diuji,” tegasnya.

Tema kepemimpinan adaptif berbasis empati yang diusung dalam kegiatan itu dinilai relevan dengan tantangan era VUCA — kondisi yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, dan kompleksitas tinggi — yang kini dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia.

Sementara itu, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Ramli Anyato, mengatakan Aceh Tamiang dipilih sebagai lokasi visitasi karena dinilai memiliki pengalaman nyata dalam menghadapi situasi krisis dan pemulihan daerah.

“Kami membawa 60 peserta PKN tingkat II dari berbagai instansi pusat dan daerah. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung di daerah yang tengah dalam proses pemulihan,” ujarnya.

Tidak hanya membawa agenda pembelajaran, kunjungan tersebut juga dibarengi aksi nyata kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana. Berbagai bantuan diserahkan untuk mendukung percepatan pemulihan Aceh Tamiang.

Bantuan tersebut antara lain berupa dua unit komputer all-in-one dan satu unit printer dari BPSDM Provinsi Jawa Timur, 10 dus makanan siap saji senilai Rp43 juta dari BPBD Jawa Timur, hingga bantuan uang tunai dari berbagai pihak dengan total ratusan juta rupiah.

Dukungan juga datang dari peserta VKN PKN II sebesar Rp300 juta, PT Toba Pulp Lestari Tbk Rp200 juta, Kapal Api Rp100 juta, Pramuka Rp150 juta, serta bantuan pihak ketiga lainnya. Selain itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara turut menyalurkan perlengkapan sekolah dan perlengkapan ibadah senilai Rp40 juta.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan dari sejumlah perangkat daerah di Aceh Tamiang, seperti BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian.

Dalam pemaparan tersebut, para peserta PKN mendapatkan gambaran langsung mengenai kondisi lapangan, tantangan penanganan dampak bencana, hingga strategi pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.

Visitasi ini menjadi lebih dari sekadar agenda pelatihan birokrasi. Di Aceh Tamiang, para calon pemimpin nasional belajar bahwa kepemimpinan sejati lahir ketika negara hadir di tengah penderitaan rakyat, membangun harapan, dan memastikan masyarakat tidak berjalan sendiri menghadapi bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *