Momentum tersebut menjadi catatan penting bagi masyarakat Kecamatan Seruway dan Bendahara. Di kawasan pesisir yang mempertemukan aliran Sungai Tamiang dengan Selat Malaka itu, semangat kemerdekaan dipadukan dengan upaya pelestarian lingkungan dan satwa liar dilindungi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Aceh Tamiang, Drs. Irjen Pol. (Purn.) Armia Pahmi, MH, melalui Kabag Barang dan Jasa (Barjas) Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang, T. Zubaral Hadidsyah, ST.
Rangkaian kegiatan juga ditandai dengan pelepasliaran 640 anakan Tuntong Laut (Batagur borneoensis) ke habitat alaminya. Satwa dilindungi yang memiliki kemiripan dengan kura-kura tersebut merupakan hasil penetasan telur yang sebelumnya diamankan oleh Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI).
Penghormatan Bendera Merah Putih dipimpin Wakil Komandan II Satgas Kuala TNI Jhonlin, Mayjen TNI Anggota Eston Yustinwan. Saat ini, ia memimpin operasi pengerukan dasar Sungai Tamiang di kawasan Muara Pusong Kapal untuk mengatasi pendangkalan yang terjadi setelah banjir hidrometeorologi pada akhir November 2025.
Dalam sambutannya, Eston mengajak seluruh pihak menjadikan momentum kemerdekaan sebagai energi bersama untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
“Kita sama-sama menuju ke arah Indonesia sejahtera, Indonesia sehat, Indonesia pintar dan Indonesia makmur,” ujarnya.
18 Tahun Menjaga Tuntong Laut
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, S.Hut., M.Sc., M.Si., mengatakan keberadaan YSLI yang dipimpin Yusriono telah menjadi bagian penting dalam upaya penyelamatan Tuntong Laut di Aceh Tamiang.
Menurut dia, kerja konservasi yang dilakukan YSLI bersama para pihak telah berlangsung secara berkelanjutan selama sekitar 18 tahun. Upaya tersebut dinilai turut menjaga keberlangsungan populasi Tuntong Laut yang terancam akibat tekanan terhadap habitatnya.
Konservasi yang dilakukan YSLI, kata Ujang, tidak hanya menyasar satwa. Upaya pelestarian juga dilakukan melalui pemulihan ekosistem pesisir, salah satunya dengan penanaman ratusan ribu bibit mangrove.
Hutan mangrove memiliki peran penting sebagai habitat berbagai jenis satwa dan biota perairan, termasuk Tuntong Laut, kera, kepiting, udang serta ikan. Keberadaannya juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
Ketua YSLI, Yusriono, mengatakan keberadaan kawasan mangrove memberikan dampak ekologis sekaligus ekonomi bagi nelayan tradisional.
“Secara ekonomis, para nelayan kepiting dan ikan telah memperoleh manfaat besar dari keberadaan kawasan mangrove tersebut untuk mencari rezeki guna memenuhi kebutuhan keluarganya,” kata Yusriono.
Pengerukan Muara Buka Harapan Baru
Pendiri YSLI, Joko Guntoro, S.Sos., menilai pengerukan dasar sungai dan muara yang dilakukan Satgas Kuala TNI Jhonlin membawa manfaat lebih luas bagi kawasan pesisir Ujung Tamiang.
Menurut Joko, pendangkalan yang selama ini terjadi tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat dan nelayan, tetapi juga memperparah persoalan lingkungan di kawasan muara.
“Pengerukan dasar sungai dan muara telah terjadi penambahan pantai. Nantinya daratan baru ini akan kita tanami pohon kelapa dan kayu mangrove. Jadi keberadaan mereka di sini sangat menguntungkan bagi daerah Aceh Tamiang,” ujarnya.
Pengerukan tersebut juga mulai dirasakan manfaatnya oleh nelayan di pesisir Kecamatan Seruway dan Kecamatan Bendahara. Jalur yang sebelumnya mengalami pendangkalan dan membuat perahu bermesin maupun kapal nelayan rawan kandas kini menjadi lebih mudah dilalui.
Aktivitas lalu lintas nelayan menuju kawasan perairan Selat Malaka pun berangsur lebih lancar.
Bagi masyarakat pesisir, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kuala Pusong Kapal akhirnya tidak sekadar menjadi seremoni pengibaran bendera. Pelepasliaran ratusan Tuntong Laut, pemulihan mangrove, hingga pengerukan muara menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui upaya menjaga alam dan memperkuat sumber penghidupan masyarakat.
Di ujung Tamiang, Merah Putih berkibar di tengah bentang pesisir, sementara ratusan Tuntong Laut kembali ke habitatnya. Sebuah perayaan kemerdekaan yang mempertemukan nasionalisme, konservasi, dan harapan baru bagi masyarakat pesisir.
Post Views: 29