Bela Negara Bukan Soal Seragam, Danpusterad Ingatkan Ancaman di Era Digital

Headline, Nasional99 Dilihat

BANDUNG — Kesadaran bela negara dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus mempersiapkan generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045.

Hal itu disampaikan Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Danpusterad) Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno dalam Forum Kebangsaan bertema “Kesadaran Bela Negara Merupakan Pondasi Dasar Menuju Indonesia Emas” yang digelar di Aula Muhammad Toda Kodiklatad, Bandung, Kamis (13/8/2026).

banner 400x130 banner 400x130 banner 400x130

Forum Kebangsaan yang merupakan bagian dari Program Unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Si., tersebut diikuti 526 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Peserta berasal dari kalangan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, pelajar hingga organisasi kemasyarakatan.

Dalam forum tersebut, Danpusterad menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Ia mengingatkan bahwa ancaman terhadap keutuhan negara tidak selalu hadir dalam bentuk konflik bersenjata.

Menurutnya, sejarah runtuhnya Yugoslavia pada awal 1990-an dapat menjadi pelajaran penting. Krisis politik dan ekonomi, konflik antarkelompok, serta melemahnya figur pemersatu disebut menjadi sejumlah faktor yang mendorong terjadinya disintegrasi.

“Bela negara bukan hanya tugas TNI, tetapi hak dan kewajiban seluruh warga negara,” tegas Letjen TNI Mochamad Syafei.

Ia menjelaskan, bentuk ancaman di era modern semakin beragam. Selain ancaman militer, masyarakat juga dihadapkan pada ancaman ideologi, ekonomi, sosial, budaya, hingga pengaruh informasi yang berkembang cepat melalui ruang digital.

Karena itu, bela negara, kata dia, perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Integritas, etika dalam bermedia digital, kreativitas, kepedulian sosial, semangat gotong royong, serta kebanggaan terhadap identitas bangsa merupakan bagian dari praktik bela negara.

“Bela negara harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui integritas, etika digital, kreativitas, kepedulian sosial, semangat gotong royong, serta kebanggaan terhadap identitas bangsa,” ujarnya.

Bagi TNI Angkatan Darat, upaya memperkuat kesadaran tersebut dilakukan antara lain melalui Pembinaan Teritorial dan Kemanunggalan TNI dengan Rakyat.

Danpusterad juga menyoroti keberagaman Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, agama dan warisan budaya. Keragaman tersebut, menurutnya, merupakan kekuatan strategis bangsa yang harus dijaga melalui nasionalisme dan semangat persatuan.

Di sisi lain, perkembangan globalisasi menghadirkan tantangan tersendiri bagi generasi muda. Beberapa di antaranya berupa pemahaman nasionalisme yang masih bersifat simbolik, belum meratanya kesadaran bela negara, meningkatnya individualisme, menurunnya literasi sejarah, serta masuknya pengaruh ideologi transnasional melalui ruang digital.

“Generasi muda adalah penentu masa depan Indonesia. Kesadaran bela negara bukan hanya tentang senjata dan seragam, tetapi tentang karakter, integritas, kepedulian, dan pengabdian kepada bangsa,” katanya.

Melalui Forum Kebangsaan tersebut, Danpusterad mengajak seluruh elemen masyarakat memperkokoh nasionalisme, memperluas wawasan kebangsaan, serta membangun kesamaan persepsi dan komitmen dalam menjaga keutuhan NKRI.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi mampu melahirkan gagasan dan langkah nyata dalam memperkuat karakter bangsa serta mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap tanah air dan semangat pengabdian.

Dengan karakter bangsa yang kuat dan persatuan yang kokoh, Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan sekaligus melangkah menuju Indonesia Emas 2045 sebagai negara yang berdaulat, maju, dan disegani di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *