
ACEH TAMIANG — Berawal dari obrolan sederhana di sebuah warung kopi, gagasan membangun organisasi komunikasi radio amatir di Kabupaten Aceh Tamiang perlahan menemukan bentuknya. Dari percakapan tentang kepedulian terhadap kebencanaan, Saiful Alam dan Nanang Suryono mulai merajut gagasan yang kini mengarah pada terbentuknya Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Aceh Tamiang.
Apa yang semula tumbuh dari diskusi bersama sejumlah rekan itu kini berkembang menjadi gerakan membangun organisasi. Lebih dari 100 orang mulai disatukan dalam satu wadah, dengan harapan radio amatir tidak sekadar menjadi sarana komunikasi dan penyaluran hobi, tetapi juga memiliki peran nyata bagi masyarakat.
Perjalanan tersebut tentu bukan tanpa tantangan. Menyatukan banyak orang dengan latar belakang, pemikiran, dan kesibukan berbeda membutuhkan kesabaran, komunikasi, serta kesediaan untuk saling memberi ruang. Bagi Saiful Alam dan Nanang Suryono, kuncinya terletak pada koordinasi, pembagian peran, dan semangat kebersamaan.
Dari obrolan di warung kopi, gagasan itu terus diperluas. Cita-cita mereka bukan hanya membangun organisasi yang solid, melainkan juga menghadirkan jaringan komunikasi yang mampu menjangkau wilayah Aceh Tamiang, termasuk 216 kampung yang tersebar di kabupaten tersebut.
Bagi daerah yang memiliki pengalaman menghadapi bencana hidrometeorologi, kebutuhan akan jalur komunikasi alternatif bukan persoalan sepele. Ketika jaringan telekomunikasi konvensional terganggu, radio amatir berpotensi menjadi sarana untuk menyampaikan informasi, menghubungkan petugas, dan membantu koordinasi di lapangan.

Dari situlah semangat pengabdian menjadi bagian penting dari gagasan membangun ORARI Lokal Aceh Tamiang.
Merajut Kebersamaan, Menyiapkan Langkah Besar
Perjalanan menuju terbentuknya organisasi lokal kini memasuki tahapan penting. Pengurus mulai mematangkan persiapan Musyawarah Lokal (Muslok) ORARI Aceh Tamiang 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 18 Oktober 2026.
Keseriusan itu terlihat dalam rapat internal pengurus di Cafe J2R, Kampung Kebun Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Sabtu (10/10/2026). Saiful Alam dan Nanang Suryono memimpin pembahasan yang berfokus pada kesiapan teknis, administrasi, serta pembentukan panitia pelaksana.
Rapat tersebut bukan sekadar pertemuan untuk menyusun agenda. Di dalamnya, pengurus membagi tanggung jawab dan menata pekerjaan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat dipersiapkan secara terukur.
Sejumlah seksi kepanitiaan dibentuk, mulai dari registrasi dan penerimaan tamu, perlengkapan teknis, penataan tempat, konsumsi, dokumentasi, transportasi, keamanan, hubungan masyarakat, hingga protokoler. Panitia juga diberi ruang untuk membentuk seksi tambahan apabila kebutuhan di lapangan mengharuskannya.
Selain Muslok, agenda Ujian Nasional Amatir Radio (UNAR) turut menjadi bagian dari pembahasan. Kegiatan ini diharapkan mendukung penguatan kapasitas anggota dan pengembangan aktivitas komunikasi radio amatir di tingkat lokal.
Bagi Saiful, pembentukan panitia merupakan fondasi penting dalam membangun organisasi. Setiap orang perlu mengetahui peran dan tanggung jawabnya, tetapi yang tidak kalah penting adalah kesediaan untuk bekerja bersama demi tujuan yang sama.
“Ini merupakan fondasi dasar terbentuknya organisasi lokal ORARI. Keterlibatan dan komitmen seluruh unsur organisasi sangat diperlukan agar pelaksanaan musyawarah dapat berjalan lancar sesuai rencana yang telah ditetapkan,” ujar Saiful Alam.
Ia berharap seluruh panitia segera menindaklanjuti tugas masing-masing, terutama dalam memenuhi kebutuhan teknis dan administratif menjelang pelaksanaan Muslok.
Di tengah persiapan tersebut, koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan juga menjadi bagian dari upaya membangun dukungan bagi perjalanan organisasi. Sebab, organisasi yang ingin tumbuh dan memberi manfaat membutuhkan lebih dari sekadar jumlah anggota. Dibutuhkan pula tata kelola yang baik, komunikasi yang terbuka, dan arah kerja yang jelas.
Radio Amatir dan Harapan di Tengah Ancaman Bencana
Bagi Aceh Tamiang, radio amatir memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar perangkat pemancar dan penerima suara. Teknologi komunikasi ini menyimpan potensi untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat, terutama ketika bencana mengganggu infrastruktur komunikasi.
Dalam keadaan darurat, informasi yang terlambat diterima dapat mempersulit koordinasi. Sebaliknya, komunikasi alternatif yang dikelola dengan baik berpotensi membantu penyampaian kabar dari satu titik ke titik lain, mendukung koordinasi relawan, serta memperlancar pertukaran informasi sesuai kebutuhan penanganan bencana.
Potensi itulah yang ingin terus dikembangkan melalui ORARI Lokal Aceh Tamiang. Namun, peran tersebut tidak cukup dibangun hanya dengan semangat. Kesiapan sumber daya manusia, keterampilan operator, kelayakan perangkat, disiplin komunikasi, dan koordinasi dengan pihak terkait menjadi unsur penting agar radio amatir dapat berfungsi secara efektif ketika dibutuhkan.
Karena itu, pembentukan organisasi lokal dan pelaksanaan Muslok menjadi kesempatan untuk menyusun arah pengembangan yang lebih terencana. Konsolidasi anggota diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan teknis dan penguatan komitmen pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Saiful Alam dan Nanang Suryono, cita-cita membangun ORARI bukan semata-mata tentang menghadirkan organisasi baru. Lebih jauh, ada harapan agar kebersamaan yang tumbuh dari percakapan sederhana itu dapat berkembang menjadi kekuatan yang berguna bagi daerah.
Dari Gagasan Menuju Pengabdian Nyata
Perjalanan dari warung kopi menuju Muslok 2026 menjadi gambaran bahwa sebuah gagasan dapat tumbuh ketika ada orang-orang yang bersedia merawatnya. Meski jalan menuju organisasi yang mapan masih membutuhkan kerja keras, langkah demi langkah mulai disusun melalui konsolidasi, pembagian tanggung jawab, dan persiapan kegiatan.
Muslok ORARI Aceh Tamiang 2026 mengusung tema “Semangat Baru, Pengabdian Nyata”. Tema tersebut menjadi harapan agar momentum musyawarah tidak berhenti pada agenda organisatoris, tetapi juga melahirkan komitmen dan program yang bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang.
Musyawarah itu diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, merumuskan arah organisasi, dan menata langkah ke depan. Keberhasilannya kelak tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi juga dari kemampuan organisasi menjaga partisipasi anggota dan menjalankan peran sesuai tujuan yang telah disepakati.
Dari obrolan sederhana di warung kopi, Saiful Alam dan Nanang Suryono mulai menapaki perjalanan yang lebih besar. Kini, gagasan itu sedang diuji dalam kerja nyata: menyatukan lebih dari seratus orang, membangun organisasi, dan menyiapkan radio amatir agar dapat memberi manfaat ketika masyarakat membutuhkan jalur komunikasi alternatif.
Sebab, pada akhirnya, kekuatan sebuah organisasi bukan hanya terletak pada banyaknya anggota atau perangkat yang dimiliki, melainkan pada kesediaan orang-orang di dalamnya untuk saling terhubung, bergerak bersama, dan hadir ketika pengabdian benar-benar dibutuhkan.





Tinggalkan Balasan