
ACEH TAMIANG — Sebanyak 75 guru SMA dan SMK di Kabupaten Aceh Tamiang dibekali keterampilan menyusun bahan ajar yang lebih sistematis dan adaptif. Pelatihan selama tiga hari ini diarahkan agar guru tak sekadar menyampaikan materi, tetapi mampu menghadirkan bahan pembelajaran yang membantu siswa belajar lebih efektif dan mandiri.
Kegiatan yang berlangsung pada 6-8 Oktober 2026 itu digelar Dinas Pendidikan Aceh melalui Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Tamiang dan dipusatkan di SMAN 1 Rantau.
Puluhan peserta merupakan perwakilan SMA dan SMK se-Aceh Tamiang yang dikirim oleh masing-masing sekolah.
Di tengah perubahan pola belajar yang semakin dipengaruhi teknologi, kemampuan guru menyusun bahan ajar dinilai menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Bahan ajar tidak lagi sekadar kumpulan materi yang dibagikan kepada siswa. Materi tersebut harus disusun secara terarah agar dapat membantu guru menyampaikan pembelajaran sekaligus memudahkan peserta didik memahami materi secara runtut.

Dengan bahan ajar yang tepat, guru dapat mengarahkan proses pembelajaran, mengefektifkan waktu penyampaian materi, sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari kembali materi secara mandiri.
Guru Dituntut Tak Berhenti Belajar
Perkembangan teknologi ikut mengubah cara pembelajaran berlangsung di ruang kelas. Laptop dan perangkat digital semakin menjadi bagian dari aktivitas belajar mengajar.
Kondisi tersebut menuntut guru tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran. Mereka juga harus mampu mengemas materi menjadi bahan pembelajaran yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Pelatihan ini menjadi salah satu ruang bagi guru untuk meningkatkan kemampuan sekaligus bertukar pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi di sekolah.
Para peserta membawa pengalaman masing-masing dari ruang kelas, termasuk menghadapi karakter, kemampuan, dan kebutuhan belajar siswa yang beragam.
Karena itu, kemampuan menyusun bahan ajar yang sesuai kebutuhan menjadi penting agar proses pembelajaran tidak berjalan satu arah.
Guru tetap menjadi pengarah utama, tetapi siswa memiliki ruang lebih besar untuk mengakses dan mempelajari materi secara mandiri.
Hadirkan Narasumber dan Pemateri Akademisi
Untuk memperkuat materi pelatihan, panitia menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Sabaruddin, M.Si., Ph.D., Dr. Ary Kiswanto Kennedi, M.Pd., dan Dr. Tengku Muhammad Sahudra, M.Pd., M.Si.
Ketiganya memberikan materi kepada para peserta selama pelaksanaan pelatihan.
Kehadiran narasumber dengan latar belakang akademik tersebut diharapkan memperkaya wawasan guru, terutama dalam mengembangkan bahan ajar yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini.
Antusiasme peserta juga memunculkan harapan agar kegiatan peningkatan kompetensi guru tidak berhenti pada pelatihan kali ini.
Bakhtiar: Kegiatan Serupa Perlu Diperbanyak
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Bakhtiar, mengatakan peningkatan kapasitas guru menjadi bagian penting dalam menunjang kinerja dan kualitas pembelajaran.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar di Aceh Tamiang dengan cakupan peserta yang lebih luas.
“Harapan kami, ke depannya bisa lebih banyak kegiatan serupa digelar di Tamiang. Kami sangat berterima kasih kepada anggota DPRA Muhammad Zakiruddin atau Bang Zek, karena kegiatan ini merupakan usulan beliau kepada Dinas Pendidikan Aceh,” kata Bakhtiar.
Menurut dia, dukungan terhadap peningkatan kompetensi guru perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan tidak berhenti sebagai materi kegiatan, tetapi dapat diterapkan di sekolah.
Harapan serupa disampaikan para peserta. Mereka berharap program peningkatan kapasitas guru dapat lebih sering dilaksanakan di Aceh Tamiang sehingga kesempatan untuk meningkatkan kompetensi tidak hanya dinikmati oleh sebagian guru.
Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak materi yang disampaikan selama tiga hari. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pengetahuan tersebut dibawa pulang, diterapkan di ruang kelas, dan memberikan dampak nyata bagi peserta didik.
Sebab, di balik bahan ajar yang baik, ada guru yang terus belajar agar pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi benar-benar sampai kepada siswa.





Tinggalkan Balasan