Saat Kak Ana Menikmati Panorama Negeri di Atas Awan dari Kilonam Geumpang

Ragam73 Dilihat

Kabut masih menggantung rapat ketika pagi perlahan membuka hari di Geumpang, Kabupaten Pidie, Aceh. Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.20 WIB. Matahari belum benar-benar menembus perbukitan. Dari pelataran tenda di Agrowisata Kilonam, hamparan putih membentang menutupi lembah, menciptakan ilusi seolah siapa pun yang berdiri di sana sedang berada di atas awan.

Udara pegunungan menusuk kulit. Pepohonan menghilang di balik selimut kabut. Hanya siluet bukit yang sesekali muncul ketika embusan angin perlahan menggeser awan rendah.

Pemandangan itulah yang dinikmati Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Usman, yang akrab disapa Kak Ana, saat menghabiskan malam dengan berkemah bersama rombongan TP PKK Kabupaten Pidie pada Sabtu (1/8/2026).

Mereka sengaja bermalam untuk menyambut momen yang selama ini menjadi daya tarik utama Kilonam: panorama “negeri di atas awan” yang hanya hadir ketika pagi datang.

Di hadapan bentang alam itu, Kak Ana tampak larut menikmati suasana.

“Tempat ini sangat indah. Tidak kalah dengan daerah lain,” ujarnya sambil mengajak masyarakat dan wisatawan datang menyaksikan langsung pesona alam Geumpang.

Ucapan itu bukan sekadar kekaguman. Lanskap Kilonam memang menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di banyak tempat. Kabut datang tanpa rekayasa, mengalir mengikuti lekuk lembah, lalu perlahan menghilang ketika matahari mulai meninggi.

Kilonam—yang juga dikenal sebagai Kilo Nam atau Kilo 6—berada di tepi Jalan Geumpang–Meulaboh, sekitar enam kilometer dari Pasar Geumpang. Dari Kota Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie, perjalanan menuju lokasi ditempuh sekitar 100 kilometer melintasi jalan berkelok dengan panorama pegunungan.

Di balik keindahan itu, Kilonam lahir bukan dari rencana besar membangun destinasi wisata.

Pemiliknya, Safriati, yang akrab disapa Titi, awalnya hanya mengelola lahan perkebunan keluarga. Sekitar lima tahun lalu, kawasan itu ditanami kopi, durian, dan berbagai tanaman produktif lainnya.

Namun alam menghadirkan kejutan.

Setiap pagi, kabut turun menutupi lembah. Dari punggung bukit tempat mereka berkebun, pemandangan itu terlihat begitu memikat hingga akhirnya muncul gagasan membuka kawasan tersebut sebagai agrowisata.

“Tadinya kami berkebun. Karena mendapat pemandangan begitu indah, kami terinspirasi membuat tempat wisata,” kata Titi, Minggu (2/8/2026).

Sejak 2024, Kilonam mulai dirintis sebagai destinasi wisata alam tanpa meninggalkan identitasnya sebagai kawasan perkebunan.

Kini, tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan kebun durian dan jeruk. Di sela-selanya berdiri sebuah kafe sederhana yang menghadap langsung ke lembah.

Area berkemah disiapkan di puncak bukit, menjadi lokasi favorit wisatawan yang ingin menyaksikan matahari terbit bersama lautan kabut.

Tak jauh dari sana, air terjun setinggi sekitar 30 meter mengalir di antara rimbunnya pepohonan. Di bagian lain tersedia kolam anak dan kolam ikan yang menambah pilihan aktivitas bagi pengunjung.

Yang menarik, Kilonam tidak menerapkan tiket masuk.

Pengunjung hanya membayar makanan atau minuman yang dipesan di kafe. Bagi yang ingin menikmati suasana malam, tersedia penyewaan tenda seharga Rp150 ribu per malam, cukup untuk tiga hingga empat orang.

Satu hal yang justru menjadi daya tarik tersendiri adalah minimnya gangguan teknologi.

Tidak ada sinyal telepon seluler di kawasan itu. Pengunjung hanya bisa terhubung melalui jaringan Wi-Fi yang tersedia di sekitar kafe. Selebihnya, yang menemani hanyalah suara angin, kicau burung, dan desir pepohonan.

Pagi dan sore menjadi waktu terbaik menikmati Kilonam.

Saat pagi, kabut turun menyelimuti seluruh lembah hingga pepohonan menghilang dari pandangan. Menjelang pukul 10.00 WIB, perlahan kabut terangkat, memperlihatkan hamparan bukit hijau yang sebelumnya tersembunyi.

Sore hari menghadirkan suasana berbeda. Cahaya matahari melembut, awan kembali turun, dan lanskap berubah menjadi kanvas alam yang tenang.

Di antara dua waktu itu, sebagian pengunjung memilih duduk menikmati kopi. Sebagian lainnya sibuk mengabadikan panorama melalui kamera.

Menjelang siang, setelah kabut menghilang, Kak Ana melanjutkan aktivitasnya menyusuri kawasan agrowisata. Ia mengunjungi air terjun, melihat kolam renang anak, kolam ikan, hingga kebun kopi dan durian yang menjadi denyut utama kawasan tersebut.

Kunjungan rombongan TP PKK Aceh pada akhir pekan itu menjadi isyarat bahwa Kilonam mulai mendapat perhatian lebih luas sebagai destinasi wisata alam di Aceh.

Di tengah berkembangnya berbagai objek wisata modern, Kilonam justru menawarkan sesuatu yang sederhana namun langka: lanskap yang dibiarkan bekerja mengikuti ritme alam.

Kabut datang tanpa diundang, lalu pergi tanpa dipaksa.

Dan setiap pagi, siapa pun yang berdiri di punggung bukit itu akan memahami mengapa banyak orang menyebut Kilonam sebagai salah satu “negeri di atas awan” yang dimiliki Aceh.