JAKARTA – Di tengah bencana yang semakin sering terjadi dan beragam kegagalan sistem untuk mewujudkan ruang hidup yang adil, inklusif, dan lestari, para inovator sosial membuat perubahan dengan apa yang mereka miliki. Untuk itu, Ashoka Indonesia, organisasi nirlaba yang mendukung ratusan wirausaha sosial terkemuka di bidang pendidikan, kesehatan, hak asasi manusia, keterlibatan masyarakat, lingkungan, dan pembangunan ekonomi, mengadakan Gaharu Bumi Innovation Challenge 2026. Gelaran yang diadakan Ashoka Indonesia setiap dua tahun sekali ini, pada 2026 menerima 677 pendaftar dari 250 kabupaten/kota di 21 provinsi di Indonesia. Para peserta menghadirkan beragam inovasi yang melalui tiga tahap seleksi ketat sebelum dinobatkan menjadi 12 Inisiatif Terbaik dari empat kategori; keluarga, orang muda, guru, dan komunitas. Besarnya antusiasme tersebut menunjukkan energi perubahan tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Beragam inovasi yang lahir tidak hanya berupaya menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat setempat, tetapi juga menawarkan cara baru dalam memandang hubungan antara manusia, komunitas, dan ruang hidupnya.
Berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan, Ashoka Indonesia menyelenggarakan Gaharu Bumi Innovation Challenge (GBIC) 2026 untuk menemukan, mengapresiasi, dan memperkuat inovasi yang lahir dari akar rumput. “Setiap orang adalah changemaker,” ujar Nani Zulminarni.
Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, dalam Konferensi Pers Gaharu Bumi Innovation Challenge 2026 di Ke:Kini Ruang Bersama, Jakarta. Menurut Nani, selalu ada individu, keluarga, guru, orang muda, dan komunitas yang berinisiatif mencari solusi, menggerakkan perubahan, dan membuka harapan baru bagi lingkungan di sekitarnya.
“Mereka menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau institusi besar. Perubahan sering kali dimulai dari kepedulian seseorang terhadap masalah yang dilihat setiap hari,” katanya. “Jumlah pendaftar dan kualitas inovasi yang kami temukan memberi alasan untuk optimistis,” ujar Nani.
“Di berbagai daerah, kami melihat orang-orang yang tidak menunggu perubahan datang, tetapi memilih menjadi bagian dari perubahan itu sendiri dan membuktikan bahwa solusi bisa tumbuh dari rumah, sekolah, komunitas, dan ruang-ruang yang sering kali luput dari perhatian.
Untuk menjaring inisiatif terbaik, Ashoka Indonesia menyelenggarakan proses seleksi dalam tiga tahap. Seluruh pendaftaran terlebih dahulu ditelaah untuk menentukan 20 semifinalis di setiap kategori. Tahap berikutnya menetapkan 10 finalis melalui penilaian dan wawancara mendalam guna memahami pengalaman, perspektif, serta aspirasi para peserta. Para finalis kemudian mempresentasikan inisiatif mereka di hadapan panel penilai yang terdiri dari berbagai tokoh dan praktisi. Penilaian dilakukan berdasarkan lima kriteria utama, yaitu konektivitas terhadap isu yang dihadapi, kreativitas dalam merancang solusi, komitmen menjalankan inisiatif, kemampuan membangun kolaborasi, serta ketepatan sasaran dalam menjawab akar persoalan. Dari proses seleksi tersebut, Ashoka Indonesia menetapkan 12 tim inovasi terbaik yang dinilai mampu menghadirkan solusi nyata, memperluas partisipasi masyarakat, dan menunjukkan potensi dampak berkelanjutan dalam empat kategori: Keluarga, Guru, Orang Muda, dan Komunitas. Para tim terbaik ini mewakili berbagai pendekatan dalam menjawab tantangan ruang hidup di Indonesia, mulai dari pelestarian sumber air, penguatan ekonomi lokal, pendidikan berbasis komunitas, akses teknologi yang inklusif, hingga pelestarian pengetahuan dan budaya lokal. Meski bergerak pada isu yang berbeda, seluruh inisiatif menunjukkan kesamaan semangat: membangun perubahan dari kedekatan dengan persoalan dan melalui kolaborasi dengan masyarakat sekitar. Kategori Keluarga Majorie Jatining Surya – Kebon Tamantirto (DI Yogyakarta) Bersama keluarganya, Majorie menginisiasi Kebon Tamantirto untuk merestorasi dan melindungi Sendang Putri di Bantul yang sebelumnya terancam rusak. Upaya ini berhasil menghidupkan kembali fungsi mata air sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga sumber daya air.
Meybi Agnesya Lomanledo – Timor Moringa (Nusa Tenggara Timur) Meybi mengembangkan pemanfaatan kelor sebagai sumber penghidupan yang berkelanjutan melalui Timor Moringa. Inisiatif ini memperkuat ekonomi lokal, membuka peluang usaha bagi perempuan dan petani, serta memperkenalkan pangan lokal bernilai tinggi dari NTT.
Erna Listiani – Taman Baca Ersalrif (Jakarta) Bersama putrinya, Salwa, Erna membangun ruang literasi yang inklusif dan dekat dengan masyarakat. Dari sebuah klub buku sederhana, Taman Baca Ersalrif berkembang menjadi gerakan literasi yang menjangkau berbagai kelompok masyarakat melalui jaringan relawan dan ribuan koleksi buku.
Kategori Guru Ridwan SEMAI (Sulawesi Selatan) Guru Prakarya dan Kewirausahaan di SMAN 13 Wajo ini mengubah limbah pertanian menjadi media pembelajaran dan kewirausahaan. Melalui SEMAI, siswa belajar mengolah limbah menjadi pupuk organik sekaligus mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kehidupan komunitas petani sekitar.
Refol Malimpu Kelas Kreatif Berbasis Alam Papua (Papua Pegunungan) Refol menjadikan kebun sekolah sebagai ruang belajar yang menghubungkan pendidikan, pertanian, dan kewirausahaan. Pendekatan berbasis alam yang dikembangkannya membantu siswa memperoleh keterampilan praktis yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka di masa depan.
Wiwin Asriningrum – Rumah Karya Ilmiah Sanggau (Kalimantan Barat) Melalui pendekatan Dengarkan, Hargai, dan Aktualisasikan (DHA), Wiwin mendampingi anak muda untuk meneliti dan mengembangkan inovasi yang menjawab persoalan nyata di lingkungan mereka. Program ini telah melahirkan berbagai karya yang mendapatkan pengakuan hingga tingkat nasional dan internasional.
Kategori Orang Muda Moch Yugo Dwi Satriyo & Jamilah – Buta Digital (Jawa Timur) Berangkat dari kepedulian terhadap aksesibilitas teknologi, Yugo mendirikan Buta Digital untuk mendukung penyandang disabilitas netra memperoleh keterampilan dan kemandirian melalui penggunaan teknologi asistif.
Calvin Jonathan Santoso & Sanitera Chrisfelice — InvesKids (Jawa Tengah) Melalui pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami, Calvin memperkenalkan literasi keuangan kepada anak-anak sejak usia dini. Program yang dikembangkannya telah menjangkau puluhan sekolah serta mendorong pembentukan kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Affan Nararya Alghifari & Zahra – Welas: Seia Sekata Dalam Rasa (Jawa Tengah) Bersama timnya, Affan membangun ruang aman bagi anak muda yang pernah mengalami kekerasan dan perundungan. Melalui seni membatik, peserta diajak memulihkan diri, membangun keberanian untuk bersuara, dan memperkuat solidaritas sosial. Kategori Komunitas Nelda Hannia Yo’ra Hero (Nusa Tenggara Barat) Nelda menghubungkan pengetahuan adat, ketahanan pangan, dan pemberdayaan generasi muda melalui pelestarian tanaman lokal Bayan.
Inisiatifnya memperkuat identitas budaya sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat adat.
Hasna Mufidah – Fantasi Tuli (DKI Jakarta) Melalui seni tari, Fantasi Tuli menghadirkan ruang berekspresi dan berkarya bagi komunitas Tuli. Inisiatif ini tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga memperluas pemahaman publik mengenai bahasa isyarat dan pentingnya masyarakat yang inklusif.
Fris Frins Pionirissian Ngawi Tekno (Jawa Timur) Sejak 2018, Fris secara sukarela mengembangkan ruang belajar sains, robotika, dan teknologi bagi anak-anak.
Dengan memanfaatkan bahan sederhana dan pendekatan berbasis pemecahan masalah, Ngawi Tekno membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan sains dan teknologi. Bagi Ashoka Indonesia, pengakuan terhadap para finalis hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.
“Berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu orang, satu organisasi, atau satu sektor saja. Para pembaru membutuhkan dukungan, kolaborasi, dan ruang untuk memperluas dampak yang telah mereka bangun,” ujar Nani.
“Karena itu, GBIC bukan sekadar ajang apresiasi, melainkan upaya untuk mempertemukan para inovator dengan pemerintah, dunia usaha, filantropi, akademisi, media, dan masyarakat sipil agar solusi-solusi yang sudah terbukti di tingkat lokal dapat berkembang menjadi perubahan yang lebih luas.
Nani menambahkan di tengah berbagai kabar tentang krisis dan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, para finalis GBIC memperlihatkan wajah Indonesia yang penuh harapan. “Mereka tidak menyerah pada keadaan.
Mereka memilih bertindak, berkolaborasi, dan menghadirkan solusi. Mereka adalah bukti bahwa masa depan yang lebih adil, setara, dan lestari sedang dibangun hari ini, dari berbagai penjuru Indonesia.”
Melalui Gaharu Bumi Innovation Challenge, Ashoka Indonesia mengajak seluruh pihak untuk membuka imajinasi, pikiran, dan hati terhadap kemungkinan-kemungkinan baru dalam membangun ruang hidup yang adil, setara, dan berkelanjutan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa ini, harapan tetap hadir melalui orang-orang yang memilih bertindak, berkolaborasi, dan menciptakan perubahan bagi sesama serta lingkungan di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan