
JAKARTA – Memasuki dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gen Z Bersuara menyatakan bahwa rezim ini telah mencapai titik “End Game”—fase klimaks di mana seluruh topeng pencitraan luntur, menyisakan realitas pahit berupa kehancuran ekonomi rakyat, bobroknya hukum, dan pengkhianatan janji-janji kampanye. Gen Z Bersuara menerbitkan Mosi Tidak Percaya serta mendeklarasikan tajuk perlawanan total: “Rezim Prabowo – Gibran End Game !!!”.
Melalui rilis resminya, Founder Gen Z Bersuara, Rio Ipan Doni, menegaskan bahwa End Game bagi rezim ini bukan lagi sekadar metafora, melainkan vonis nyata dari generasi muda yang masa depannya sedang digadai demi ambisi segelintir elite.
Kita sedang menyaksikan babak akhir dari sandiwara politik kekuasaan. Dua tahun berjalan, yang disajikan bukan kesejahteraan, melainkan darurat keadilan. Lima dosa besar rezim ini membuktikan bahwa Prabowo-Gibran sudah game over di hati nurani rakyat,” tegas Rio Ipan Doni.
Berikut adalah 5 (lima) titik nadi dari babak End Game kepemimpinan Prabowo-Gibran:
1. APBN Rp3.136,5 Triliun: Pesta Pora Birokrasi, Menimbun Harapan Rakyat Untuk Sejahtera
“Anggaran negara menembus angka fantastis Rp3.136,5 triliun, tetapi di tingkat akar rumput, rakyat kecil berdarah-darah menghadapi mahalnya biaya hidup, sulitnya mencari pekerjaan. APBN super-jumbo ini bukan instrumen pemerataan, melainkan bancakan brutal untuk membiayai kabinet gemuk, melanggengkan dinasti, dan menumpuk utang yang tidak terukur. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita mensejahterakan rakyat!”

2. Pendidikan Gratis: Ilusi Politik,Membiarkan Rakyat Tetap Bodoh
“Janji ‘Pendidikan Gratis’ terkesan sebatas menjadi lelucon. Di saat anak muda menuntut ilmu, negara justru membiarkan komersialisasi kampus merajalela lewat lonjakan UKT yang mencekik. Pemerintah gagal mengakomodir hak dasar warga negaranya, mendapatkan hak pendidikan. Janji “digratiskan” hanya retorika para pejabat, sementara masa depan generasi muda dibunuh perlahan di ruang-ruang kelas yang mahal.”
3. Karhutla Yang Mengerikan: Pembunuhan Ekologis Demi Kepentingan Oligarki
“Bencana kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang setiap tahun adalah bukti bahwa negara melunak terhadap korporasi perusak lingkungan. Tidak ada tindakan tegas dan nyata bagi korporasi yang lahannya terbakar. Asap tebal yang meracuni paru-paru rakyat di daerah adalah salah satu bentuk akibat dari kejahatan sistemik. Pemerintah lebih memilih keuntungan bagi para cukong oligarki dari pada menyelamatkan ruang hidup bagi makhluk hidup di masa mendatang.”
4. Korupsi Belum Tuntas: Hukum Hanya Jadi Alat Penindasan
“Pemberantasan korupsi belum berjalan dengan baik. Pengawasan dilemahkan, integritas penegak hukum diragukan, dan hukum hanya tajam ke bawah serta tumpul ke penguasa. Dengan anggaran negara yang mencapai ribuan triliun dapat memicu potensi terjadi korupsi. Pemimpin negara tidak tegas melakukan pengawasan anggaran!”
5. Program Unggulan Ugal-ugalan: Etalase Pencitraan Tanpa Substansi
“Berbagai program unggulan yang dipaksakan berjalan hanyalah proyek mercusuar tanpa perencanaan matang—menyedot anggaran triliunan rupiah hanya untuk menjadi bahan publisitas di media sosial. Program-program ini mengabaikan partisipasi publik, memicu konflik horizontal, dan meninggalkan lubang hitam anggaran yang akan diwariskan untuk mencekik generasi masa depan.”
“Waktu habis. Dua tahun kepemimpinan ini telah membuktikan bahwa Prabowo-Gibran gagal menjawab panggilan sejarah. Jika arah kebijakan ugal-ugalan ini terus dipaksakan, maka ‘End Game’ bukan lagi sekadar kritik, melainkan panggilan terbuka bagi seluruh rakyat untuk turun tangan mengambil alih masa depan bangsa!”— Rio Ipan Doni, Founder Gen Z Bersuara




Tinggalkan Balasan