Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya konservasi satwa liar sekaligus pemulihan ekosistem pesisir. Tuntong Laut merupakan satwa yang keberadaannya semakin langka dan mendapat perlindungan, sementara habitatnya sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem pesisir dan mangrove.
Ketua YSLI, Yusriono, mengatakan pelepasliaran Tuntong Laut telah dilakukan secara konsisten sejak 2012. Hingga kini, sedikitnya 7.900 anak Tuntong Laut telah dilepasliarkan ke alam melalui berbagai program konservasi.
“Keberadaan spesies ini menjadi modal penting bagi pembangunan sektor pariwisata. Selain ekowisata, Tuntong Laut dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis konservasi satwa langka,” ujar Yusriono.
Menurut Yusriono, keberadaan Tuntong Laut tidak hanya berkaitan dengan upaya mempertahankan populasi satwa, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung pengembangan pariwisata berbasis lingkungan di Aceh Tamiang.
Ia menyampaikan apresiasi kepada PT Pegadaian Area Aceh yang ikut memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelestarian Tuntong Laut serta ekosistem mangrove sebagai habitat penting bagi satwa tersebut.
Sementara itu, Deputy Bisnis PT Pegadaian Area Aceh, Syahputra Adriansyah, mengatakan keterlibatan Pegadaian dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Ketika kita memiliki pemahaman dan langkah yang sama, pada akhirnya kita dapat memberikan sesuatu yang baik bagi generasi penerus. Pelepasliaran Tuntong Laut ini merupakan bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir, sungai, mangrove, dan pantai yang menjadi kekayaan alam kita,” kata Syahputra.
Ia menegaskan, pelepasliaran tukik bukanlah titik akhir kegiatan konservasi. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi awal dari tanggung jawab bersama untuk memastikan satwa dapat bertahan di habitat alaminya.
“Ini bukanlah akhir dari sebuah kegiatan, tetapi awal dari sebuah tanggung jawab untuk memastikan habitatnya tetap terjaga dan masyarakat ikut menjaganya. Kita juga memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan Tuntong Laut tetap dapat memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan ekosistem di sekitarnya,” ujarnya.
Selain melepasliarkan tukik, Pegadaian bersama YSLI dan sejumlah pihak terkait menanam 500 bibit mangrove. Penanaman dilakukan untuk memperkuat ekosistem pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan habitat Tuntong Laut.
Syahputra mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam menjaga ekosistem. Keterlibatan tidak hanya berasal dari dunia usaha dan lembaga konservasi, tetapi juga pemerintah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), TNI dan Polri, serta masyarakat setempat.
“Ini merupakan bentuk nyata kolaborasi untuk menjaga ekosistem pesisir. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga upaya menjaga lingkungan dan kelestarian Tuntong Laut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat maupun generasi mendatang,” katanya.
BKSDA: Konservasi Butuh Kolaborasi
Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata, S.Hut., M.Sc., M.Si., yang berhalangan hadir, diwakili Kepala Resort KSDA Wilayah Langsa, Nursholati Chairi Zananda, S.H.
Dalam sambutannya, Nursholati menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Kepala BKSDA Aceh sekaligus mengapresiasi dukungan YSLI dan PT Pegadaian terhadap upaya pelestarian satwa liar dan ekosistem pesisir.
“Kegiatan hari ini memiliki makna yang sangat penting. Pelepasliaran Tuntong Laut merupakan salah satu upaya mengembalikan satwa ke habitat alaminya, sedangkan penanaman mangrove merupakan bagian dari upaya menjaga dan memelihara habitat pesisir,” ujar Nursholati.
Ia menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dukungan dunia usaha, lembaga konservasi, organisasi masyarakat, dan warga di sekitar habitat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.
“Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan. Mari bersama-sama menjaga Tuntong Laut, melestarikan mangrove, dan mempertahankan keanekaragaman hayati untuk generasi yang akan datang,” katanya.
Menurut Nursholati, kesinambungan kolaborasi diharapkan tidak hanya memberikan dampak terhadap keberlangsungan populasi Tuntong Laut, tetapi juga menjaga fungsi ekosistem pesisir yang menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kegiatan pelepasliaran 300 tukik dan penanaman 500 mangrove tersebut menjadi bagian dari rangkaian upaya konservasi Tuntong Laut di Aceh Tamiang. YSLI mencatat, sejak 2012 sedikitnya 7.900 tukik telah dilepasliarkan ke habitat alaminya.
Post Views: 20