Karya-karya tersebut dipamerkan di Tribun Aceh Tamiang, Jumat (11/9/2026), dalam program Creative Recovery for Children yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui program Ekraf Peduli.
Peserta kegiatan berasal dari jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga santri. Melalui seni lukis, mereka diajak mengekspresikan pengalaman setelah bencana sekaligus membangun kembali optimisme dan semangat untuk bangkit.
Pemulihan pascabencana, dalam konteks ini, tidak hanya berkaitan dengan perbaikan rumah dan fasilitas yang rusak. Pemulihan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak, juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Bupati Aceh Tamiang, Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H., mengapresiasi dukungan pemerintah pusat melalui program Ekraf Peduli. Ia menilai kreativitas dapat menjadi salah satu instrumen untuk memulihkan semangat masyarakat sekaligus menggerakkan kembali perekonomian daerah.
“Bencana hidrometeorologi yang melanda kita tidak boleh berlarut. Kita harus menghidupkan kembali kreativitas dan sumber kehidupan masyarakat kita,” kata Armia.
Menurut dia, kehadiran program Creative Recovery for Children memberikan energi baru bagi masyarakat Aceh Tamiang. Pemerintah daerah juga berkomitmen mendukung penguatan ekosistem ekonomi kreatif sebagai bagian dari pemulihan pascabencana.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan seni menjadi medium bagi anak-anak untuk memproses pengalaman traumatis akibat bencana. Melalui warna dan gambar, mereka didorong untuk mengekspresikan harapan sekaligus membangun kembali keberanian menatap masa depan.
“Melalui karya lukis, anak-anak tidak sekadar membuat gambar. Ini menjadi fondasi awal untuk mencetak para profesional masa depan di industri kreatif,” ujar Teuku Riefky.
Ia menyebut profesi seperti desainer, animator, arsitek, hingga desainer interior merupakan bagian dari industri kreatif yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Yang membuat karya anak-anak Aceh Tamiang semakin unik adalah penggunaan pigmen yang berasal dari debu dan lumpur pascabanjir sebagai bagian dari proses berkarya.
Material yang sebelumnya menjadi simbol kerusakan justru diubah menjadi medium seni. Dari sana, pengalaman bencana diolah menjadi karya yang membawa pesan tentang pemulihan dan kebangkitan.
Teuku Riefky menilai karya tersebut menunjukkan kemampuan anak-anak Aceh Tamiang mengubah pengalaman pahit menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan sosial.
Dari 100 karya yang dipamerkan, sebanyak 10 karya paling inspiratif dipilih untuk dibawa ke Jakarta. Karya-karya itu akan dipamerkan sekaligus dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah ekonomi.
“Kami ditugaskan Bapak Presiden untuk memilih 10 karya terinspiratif dibawa ke Jakarta untuk dipamerkan dan dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai tambah, seperti apron,” kata Teuku Riefky.
Menurut dia, pengembangan tersebut diharapkan membuat semangat kebangkitan Aceh Tamiang tidak hanya berhenti di ruang pamer, tetapi dapat dikenal lebih luas hingga tingkat nasional dan internasional.
Penghargaan kepada 10 karya terinspiratif diserahkan langsung oleh Bupati Aceh Tamiang dan Menteri Ekonomi Kreatif. Selanjutnya, karya-karya tersebut akan dibawa ke Jakarta untuk memasuki tahap pameran dan pengembangan produk kreatif.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih manusiawi. Anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai korban yang membutuhkan bantuan, tetapi juga sebagai pencipta karya dan bagian dari masa depan ekonomi kreatif.
Di tengah proses pemulihan setelah banjir, kanvas-kanvas itu menyampaikan pesan sederhana: bencana boleh meninggalkan lumpur, tetapi tidak harus mengubur harapan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Khusus Menteri, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Tenaga Ahli Menteri, Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Direktur GIM Kementerian Ekonomi Kreatif, unsur Forkopimda, Plt. Sekretaris Daerah Aceh Tamiang, seniman muda, peserta, serta sejumlah undangan lainnya.
Post Views: 14