ACEH TAMIANG – Sejak bencana melanda di akhir tahun 2025, kepedulian LAZNAS Sahabat Yatim Indonesia hadir tak sekadar sebentar. Berangkat dari Jakarta, tim relawan membuka posko induk di Seuneubok Kecamatan Bendahara pada Desember 2025, dan sejak saat itu terus berdiri bersama masyarakat Aceh Tamiang melewati masa sulit menuju pemulihan.
“Kami memilih tidak sekadar datang memberi lalu pergi. Kami ingin hadir benar-benar di tengah masyarakat, dari hari-hari paling sulit hingga mulai terlihat harapan,” ujar Aam Halaludin, Koordinator Relawan Sahabat Yatim Indonesia saat dikonfirmasi, Senin (28/9/2026).
Aam Halaluddin menjelaskan langkah pertama yang dilakukan yaitu memastikan warga tak kekurangan makanan dengan mendirikan dapur umum. Dapur umum dibuka dan beroperasi setiap hari menyajikan 500 porsi, dibagikan ke sejumlah kecamatan, baik ke posko maupun langsung ke tenda-tenda pengungsian. Berjalan konsisten hingga Juli 2026, porsi harian perlahan disesuaikan menjadi 200 kemasan siap santap, namun tetap hadir memenuhi kebutuhan warga.
“Makan adalah kebutuhan pertama. Selama berbulan-bulan, kami pastikan tak ada hari warga yang tak mendapat makanan layak. Itu janji kami sejak awal,” kata Aam.
Tak sekadar makanan, bantuan logistik, pakaian, perlengkapan bayi, paket kebersihan, hingga sembako disalurkan ke wilayah-wilayah yang paling terdampak. Ada yang diserahkan melalui posko seperti di desa Lubuk Siduk Kecamatan Sekerak, namun banyak juga yang dibawa langsung ke tenda-tenda warga agar bantuan tepat sasaran.
Seiring berjalannya waktu, pendekatan pun berkembang, dari memberi, mulai menumbuhkan kemandirian. Program pertanian di Tualang Cut membuahkan hasil nyata, tujuh ton semangka terjual hingga ke Medan, lengkap dengan panen cabai, terong, dan aneka sayuran. Di bawah bimbingan Ibu Kumala, warga juga belajar bercocok tanam di halaman rumah memakai polibag dan memanfaatkan ruang sempit untuk menghasilkan pangan sendiri.
“Kami sadar, bantuan makanan ada habisnya. Maka kami ajarkan warga menanam sendiri. Supaya ke depannya mereka bisa mencukupi kebutuhan pangan dari halaman rumahnya sendiri,” ungkap Aam.
Aam menambahkan kebutuhan air bersih pun tak luput diperhatikan. Tandon, pengeboran sumur, hingga pemasangan filter air disiapkan di dua titik yakni Seuneubok Dalam dan desa Sungai Liput, agar warga mendapatkan akses air bersih yang layak.
Di bidang pendidikan, tenda darurat didirikan di Lubuksidup di depan Jabal Wali. Anak-anak kembali belajar dan mengaji, didatangi pula oleh tokoh-tokoh penghibur, Riki Harun, Narji, hingga pendongeng Kak Ardi dari Jakarta, agar semangat mereka tak luntur di tengah situasi sulit. Kolaborasi dengan Sekolah Inspirasi pun dijalin, serta santunan diberikan kepada 250 anak yatim dari berbagai kecamatan saat bulan Ramadan lalu.
Memasuki masa pemulihan, fokus bergeser memperkuat perekonomian warga. Program UMKM digalakkan di 15 titik, membekali kelompok masyarakat dengan modal, peralatan, serta pendampingan usaha dan termasuk pembuatan dan pengelolaan usaha fried chicken lengkap dengan sistem pasokan terpusat. Meski masih berproses, usaha ini tetap berjalan dan mulai memberi penghasilan bagi warga.
“Kami tidak hanya memberi gerobak dan pulang. Kami dampingi mereka kelola modal, hitung untung, dan pasok bahan baku secara berkelanjutan. Supaya usaha ini benar-benar hidup dan menafkahi,” tegas Aam.
Tak ketinggalan, perbaikan fasilitas ibadah dilakukan secara bertahap. Sebelas masjid dan mushola tersebar hingga ke Pulau Tiga mendapatkan bantuan perawatan dan perbaikan, dengan rata-rata bantuan Rp7,5 juta per titik, sederhana namun bermakna bagi jamaah.
Kini di bulan September 2026, perhatian beralih ke peningkatan fasilitas pendidikan, khususnya meja dan kursi bagi sekolah-sekolah swasta yang membutuhkan. Relawan dari luar telah berangsur pulang, namun tim lokal tetap bertahan menjaga semangat yang telah dibangun.
“Kehadiran kami mungkin tak besar, yang penting kami bisa memberi sesuatu yang bermanfaat bagi anak-anak dan masyarakat di sini. Ini belum selesai, kami tetap di sini selama masih dibutuhkan,” pungkas Aam Halaludin.
Sembilan bulan lebih telah berlalu. Dari dapur umum yang mengepul setiap pagi, hingga lahan pertanian yang kini berbuah. Sahabat Yatim membuktikan bahwa kehadiran yang tulus, sabar, dan terus-menerus mampu menanam harapan yang tumbuh bersama masyarakat. []
