
JAKARTA — Aktivis Muda Katolik sekaligus Founder Gerakan Pemuda Peduli Masyarakat Indonesia (GPPMI), Robertus Juan Pratama, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto atas penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Franciscus Xaverius Seda atau yang lebih dikenal dengan Frans Seda, tokoh nasional kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan kemerdekaan, pemerintahan, pembangunan ekonomi, pendidikan, serta pelayanan bagi Gereja Katolik dan masyarakat Indonesia.
Robertus Juan menilai penganugerahan tersebut merupakan bentuk penghormatan negara terhadap perjalanan pengabdian seorang putra daerah NTT yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, Frans Seda merupakan figur yang membuktikan bahwa latar belakang daerah dan identitas keagamaan bukanlah batas untuk mengabdi kepada kepentingan nasional.
“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas perhatian dan penghargaan negara kepada alm. Frans Seda melalui penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Ini merupakan kebanggaan besar bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, keluarga besar Gereja Katolik, serta seluruh rakyat Indonesia. Penghargaan ini bukan semata-mata pengakuan atas perjalanan hidup seorang tokoh, melainkan penghormatan terhadap nilai perjuangan, integritas, dan pengabdian yang telah diwariskannya kepada bangsa,” ujar Juan.
Frans Seda lahir pada 4 Oktober 1926 di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia merupakan seorang tokoh nasional beragama Katolik yang perjalanan hidupnya diwarnai oleh pengabdian dalam berbagai bidang, mulai dari perjuangan kemerdekaan, politik, pemerintahan, ekonomi, diplomasi, pendidikan, hingga kehidupan sosial dan Gereja. Ia menempuh pendidikan di Kolese Xaverius Muntilan, kemudian melanjutkan pendidikan di Hollandsche Burgerschool (HBS) Surabaya, sebelum meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, pada 1956.
Perjalanan Frans Seda menunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui kecakapan intelektual, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesediaan memberikan pemikiran dan tenaga bagi kemajuan negara.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, ia tercatat bergabung dengan Laskar KRIS (Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi) dan Batalyon Paraja atau TNI Masyarakat pada periode 1945–1950. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan seorang pemuda Flores yang memilih terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam perjalanan pemerintahan, Frans Seda dipercaya mengemban sejumlah jabatan strategis pada masa Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perkebunan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, serta Menteri Perhubungan. Ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada 1966–1968, Indonesia tengah menghadapi persoalan ekonomi yang berat, termasuk inflasi yang sangat tinggi dan ketidakstabilan keuangan negara. Dalam situasi tersebut, Frans Seda turut berperan dalam upaya penataan kembali perekonomian nasional, penguatan disiplin anggaran, serta pemulihan kepercayaan internasional terhadap Indonesia.
Pengabdiannya juga terlihat ketika menjabat sebagai Menteri Perhubungan pada 1968–1973. Ia mendorong pengembangan konektivitas nasional melalui penerbangan dan pelayaran perintis, khususnya untuk membuka keterhubungan wilayah-wilayah di Indonesia bagian timur yang pada masa itu masih menghadapi keterbatasan akses transportasi. Bagi Robertus, perhatian Frans Seda terhadap kawasan timur Indonesia merupakan salah satu warisan penting yang relevan untuk terus dilanjutkan, terutama dalam memperjuangkan pemerataan pembangunan, peningkatan konektivitas, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat NTT.
“Sebagai putra daerah Flores, Frans Seda memberikan pesan sejarah bahwa orang dari wilayah timur Indonesia juga memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang sama untuk mengambil bagian dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Ia tidak melupakan asal-usulnya ketika dipercaya menduduki jabatan nasional. Justru dari posisi strategis yang dimilikinya, ia berupaya memperjuangkan agar Indonesia bagian timur memperoleh perhatian pembangunan yang lebih besar. Inilah bentuk nasionalisme yang harus kita teladani: maju secara pribadi, tetapi tidak pernah meninggalkan kepentingan masyarakat dan daerah asal,” ungkap Robertus.
Tidak hanya bagi NTT dan Indonesia, Frans Seda juga meninggalkan warisan penting bagi Gereja Katolik. Salah satu kontribusi konkretnya adalah keterlibatannya sebagai salah satu pendiri Yayasan Atma Jaya pada 1 Juni 1960, yang kemudian melahirkan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya di Jakarta. Kehadiran lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya kaum awam Katolik untuk mengambil tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta mempersiapkan generasi muda agar mampu berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.
Bagi Juan, keterlibatan Frans Seda dalam pembangunan pendidikan Katolik memperlihatkan bahwa pelayanan Gereja tidak hanya berlangsung melalui kegiatan liturgis dan kehidupan internal umat, tetapi juga melalui karya nyata di tengah masyarakat. Pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pelayanan sosial, serta partisipasi dalam kehidupan berbangsa merupakan bentuk konkret pengamalan iman Katolik. Frans Seda juga dikenal aktif dalam kehidupan Gereja dan pernah mengambil peran dalam kepanitiaan kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia pada 1989.
“Frans Seda telah menunjukkan bahwa menjadi seorang Katolik yang baik juga berarti menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Ia tidak membangun tembok antara iman dan nasionalisme. Nilai-nilai iman justru menjadi landasan untuk bekerja, melayani, membangun pendidikan, memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, dan mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa. Warisan Atma Jaya merupakan salah satu bukti bahwa pemikiran dan pengabdiannya tidak berhenti pada masa hidupnya, tetapi terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” tambahnya.
Setelah menyelesaikan tugas-tugas pemerintahan, Frans Seda tetap dipercaya mengemban tanggung jawab dalam kehidupan kenegaraan dan diplomasi. Ia pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Luksemburg, dan Masyarakat Ekonomi Eropa di Brussel pada 1973–1976. Memasuki era Reformasi, ia juga dipercaya menjadi penasihat Presiden B.J. Habibie di bidang ekonomi pada 1998 dan penasihat Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri pada 1999. Pengalaman lintas pemerintahan tersebut memperlihatkan kapasitas, konsistensi, dan kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia.
Pria lulusan Sarjana Hukum Universitas Trisakti ini, menilai salah satu keteladanan terbesar Frans Seda adalah kemampuannya menjaga integritas dan semangat pengabdian di tengah perubahan zaman dan dinamika politik nasional. Ia hadir dalam berbagai periode sejarah Indonesia, tetapi tetap menempatkan kepentingan bangsa sebagai orientasi utama. Keteladanan tersebut penting di tengah tantangan kehidupan berbangsa saat ini, ketika generasi muda membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kecerdasan dan kemampuan berkompetisi, tetapi juga karakter, komitmen, dan keberanian untuk bekerja bagi kepentingan publik.
Lebih lanjut, Robertus mengajak generasi muda Indonesia, khususnya kaum muda Katolik dan pemuda NTT, untuk tidak hanya menjadikan Frans Seda sebagai kebanggaan sejarah, tetapi juga menjadikan nilai-nilai perjuangannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, gelar Pahlawan Nasional harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat kepahlawanan melalui tindakan nyata, bukan berhenti pada seremoni, ucapan selamat, maupun kebanggaan terhadap tokoh dari daerah sendiri.
“Generasi muda jangan hanya bangga karena Frans Seda berasal dari Flores dan beragama Katolik. Kita harus berani belajar dari cara beliau menjalani kehidupan. Belajar dengan sungguh-sungguh, membangun kapasitas diri, menjaga integritas, berani mengambil tanggung jawab, memiliki kepedulian terhadap masyarakat kecil, serta tidak kehilangan semangat nasionalisme. Jika dahulu Frans Seda berjuang melalui jalur kemerdekaan, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan pelayanan Gereja, maka hari ini kita harus melanjutkan perjuangan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, kewirausahaan, gerakan sosial, kepemimpinan yang berintegritas, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan tantangan yang dihadapi Frans Seda pada masa perjuangan dan awal pembangunan Indonesia. Namun, nilai-nilai yang diwariskannya tetap relevan. Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak mudah menyerah, tidak terjebak dalam kepentingan pribadi, mampu menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan global, serta memiliki keberpihakan terhadap persoalan nyata masyarakat, termasuk kemiskinan, ketimpangan pendidikan, keterbatasan akses kesehatan, dan belum meratanya pembangunan di wilayah timur Indonesia.
“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal Frans Seda ketika namanya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Kita perlu menghadirkan kembali pemikiran, perjalanan hidup, dan karya-karyanya melalui pendidikan, literasi sejarah, diskusi publik, serta ruang-ruang pembinaan kepemudaan.
Kebanggaan terhadap seorang pahlawan harus diterjemahkan menjadi kemauan untuk meneruskan nilai perjuangannya,” tutup Robertus Juan.
Sebagai penutup, Juan berharap penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Frans Seda menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan, nasionalisme, toleransi, dan pengabdian lintas generasi. Ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Frans Seda sebagai teladan bahwa iman dapat berjalan seiring dengan nasionalisme, identitas daerah dapat memperkaya identitas kebangsaan, dan pengabdian yang dilakukan secara konsisten dapat meninggalkan warisan yang melampaui usia manusia.
“Frans Seda boleh telah tiada, tetapi nilai perjuangan dan pengabdiannya harus tetap hidup. Sebab seorang pahlawan tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah diemban atau penghargaan yang diterima, melainkan karena manfaat yang terus dirasakan oleh generasi setelahnya.” Tutup Juan.




Tinggalkan Balasan