
Ketika ambisi merebut jabatan mulai mengalahkan semangat persaudaraan, rumah besar wartawan terancam kehilangan makna yang sesungguhnya.
Oleh: Jufrizal/ Ketua PWI Aceh Besar
BANDA ACEH — Seharusnya, rumah itu menjadi tempat bernaung. Tempat para wartawan saling menguatkan, bertukar pikiran, dan merawat persaudaraan di tengah dinamika profesi yang tidak selalu mudah. Di sana, perbedaan pandangan semestinya menjadi kekayaan organisasi, bukan alasan untuk saling bermusuhan.
Namun, ketika ambisi mulai mengambil alih ruang kebersamaan, suasana rumah itu perlahan berubah.
Saling menyikut, saling menyerang, hingga melontarkan tudingan menjadi warna yang mengusik persaudaraan. Kompetisi yang semestinya berlangsung sehat terkadang justru menyeret sesama anggota ke dalam pertarungan kepentingan.

Pemandangan seperti ini menyisakan pertanyaan mendasar: masihkah organisasi profesi wartawan dipandang sebagai rumah bersama, atau justru telah berubah menjadi arena perebutan pengaruh dan kekuasaan?
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sebagai salah satu organisasi profesi wartawan tertua di Tanah Air, tentu memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pers nasional. Organisasi ini dibangun bukan sekadar untuk menghimpun wartawan dalam satu wadah, melainkan juga menjadi ruang untuk memperjuangkan kemerdekaan pers, meningkatkan profesionalisme, serta menjaga kehormatan profesi.
Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di dalamnya semestinya disikapi dengan kedewasaan.
Ketika Pena Berubah Menjadi Senjata
Wartawan dikenal sebagai profesi yang memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan fakta, mengungkap ketidakadilan, dan mengawasi kekuasaan. Pena menjadi instrumen untuk memperjuangkan kebenaran, sementara kata-kata menjadi jembatan bagi masyarakat untuk memahami realitas.
Tetapi ironisnya, ketika konflik internal muncul, nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan justru berisiko dilupakan.
Kata-kata yang seharusnya menjadi sarana menyampaikan gagasan berubah menjadi alat menyerang. Perbedaan pendapat berkembang menjadi pertentangan personal. Bahkan, kawan yang sebelumnya berjalan bersama dalam perjuangan organisasi dapat diperlakukan seolah-olah lawan yang harus disingkirkan.
Jika situasi semacam ini terus dibiarkan, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang berhak menduduki jabatan tertentu. Lebih jauh, yang dipertaruhkan adalah kepercayaan, kehormatan, dan masa depan organisasi.
Sebab, organisasi profesi tidak dibangun untuk memuaskan ambisi segelintir orang. Ia hadir untuk melayani kepentingan bersama dan memperkuat martabat profesi.
Jabatan Sementara, Persaudaraan Jangan Sampai Hilang
Dalam setiap proses pemilihan kepemimpinan, perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang wajar. Setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan gagasan, menawarkan program, membangun dukungan, dan memperjuangkan visi organisasi.
Kompetisi bahkan diperlukan agar organisasi tidak kehilangan dinamika dan ruang pembaruan.
Namun, ada batas yang tidak seharusnya dilanggar.
Kompetisi tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Perbedaan strategi tidak semestinya melahirkan fitnah, sementara ambisi memperoleh jabatan tidak boleh menghalalkan segala cara.
Kemenangan yang diperoleh dengan mengorbankan kehormatan sesungguhnya menyimpan kekalahan yang jauh lebih besar.
Sebab, jabatan memiliki batas waktu. Kepemimpinan akan berganti seiring berjalannya masa organisasi. Hari ini seseorang mungkin berada di posisi teratas, tetapi esok hari bisa saja kembali menjadi anggota biasa.
Sebaliknya, luka akibat pertikaian dan rusaknya persaudaraan tidak selalu mudah disembuhkan.
Lalu, apa artinya sebuah kemenangan jika setelah itu sesama wartawan kehilangan rasa saling percaya? Apa makna sebuah jabatan apabila untuk meraihnya seseorang harus mengorbankan integritas dan kehormatan profesi?
Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang sedang berada dalam pusaran dinamika organisasi.
PWI Bukan Milik Segelintir Orang
PWI bukan milik satu kelompok, satu figur, ataupun satu kepentingan. Organisasi ini adalah rumah bersama bagi para wartawan yang memiliki komitmen terhadap profesi dan perjuangan pers.
Karena itu, siapa pun yang terlibat dalam dinamika kepemimpinan harus memahami bahwa organisasi tidak boleh dipersempit menjadi ruang untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Kepemimpinan sejatinya bukan tentang seberapa besar kekuasaan yang berhasil diraih, melainkan seberapa besar kemampuan seseorang menjaga kebersamaan, merangkul perbedaan, dan membawa organisasi menjadi lebih baik.
Pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang berhasil menyingkirkan sebanyak mungkin orang yang berbeda pandangan. Justru pemimpin yang matang adalah mereka yang mampu duduk bersama, mendengarkan kritik, menghargai perbedaan, dan membangun persatuan.
Di sinilah kedewasaan seorang wartawan diuji.
Sebab, terlalu sering kita berbicara tentang independensi, profesionalisme, kode etik, dan tanggung jawab moral kepada publik. Namun, semua nilai itu juga harus tercermin dalam perilaku ketika menghadapi persoalan di lingkungan organisasi sendiri.
Jangan sampai wartawan begitu lantang mengkritik ketidakadilan di luar, tetapi kehilangan kebijaksanaan ketika berhadapan dengan sesama rekan seprofesi.
Menanglah dengan Kehormatan
Sudah saatnya seluruh elemen organisasi kembali mengingat tujuan awal ketika rumah besar ini dibangun.
Datanglah dengan gagasan, bukan kebencian. Berkompetisilah dengan program, bukan dengan menjatuhkan martabat orang lain. Perjuangkan kepemimpinan dengan cara-cara yang bermartabat, bukan melalui serangan personal dan pertikaian yang justru merusak organisasi.
Perbedaan pilihan tidak harus menghapus persaudaraan. Kekalahan dalam sebuah kontestasi bukan akhir dari pengabdian. Begitu pula kemenangan bukan alasan untuk merasa paling berkuasa.
Pada akhirnya, PWI membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin baru. Organisasi ini membutuhkan kedewasaan, keteladanan, dan kesediaan seluruh anggotanya untuk kembali menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.
Kita adalah wartawan. Kita terbiasa mengingatkan orang lain tentang pentingnya kebenaran, kejujuran, dan kehormatan.
Maka, jangan sampai di rumah sendiri kita justru kehilangan nilai-nilai tersebut.
Sebab, rumah wartawan semestinya menjadi tempat saling menguatkan, bukan arena saling menjatuhkan.
Menanglah dengan kehormatan, bukan dengan menjatuhkan. Berkompetisilah dengan gagasan, bukan dengan permusuhan.
Karena jabatan bisa berganti, kekuasaan bisa berakhir, tetapi kehormatan dan persaudaraan adalah warisan yang seharusnya tetap kita jaga.




Tinggalkan Balasan