
Jakarta – Aksi protes yang dilayangkan berbagai pihak, terutama generasi muda terhadap Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, jangan hanya dilihat pada konteks kejadian saat Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026, di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Kamis (29/10) lalu.
“Itu bentuk kekecewaan generasi muda terhadap kinerja Raffi Ahmad yang dianggap gak becus selama dua tahun menjadi Utusan Khusus Presiden,” kata Ketua Umum Gema Bersama Rakyat (Gebrak) Hari Suprianto, di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, selama ini Raffi terkesan hanya mendompleng popularitas menjadi Utusan Khusus Presiden, baik untuk menaikkan ratingnya di media sosial maupun mendukung bisnisnya semata.
“Kalau kita lihat, apa yang sudah dilakukan dia selama dua tahun ini, kecuali kegiatan-kegiatan yang berbau seremonial saja. Sowan ke sana-sini, cuma hadiri seremonial, bahkan dia sering membuat bumerang yang membuat citra Presiden jelek,” tambahnya.
Dicontohkan, kasus mobil dinas berpelat nomor RI 36 yang dikawal oleh petugas patroli dan pengawalan (patwal) terjadi Rabu, 8 Januari 2025 di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Begitu juga namanya terseret pada kasus Bea Cukai. Ada lagi polemik LHKPN dan utangnya, juga isu penunjukan orang dekat di BUMN & gerakan unfollow massal di pertengahan 2026. Terakhir, masalahnya di Bundaran HI.

“Kami yakin, Presiden Prabowo memiliki misi mulia dengan menempatkan sosok khusus sebagai utusan khusus-nya di bidang kepemudaan. Sayang sekali, kalau kapasitas orang yang ditunjuk Bapak Presiden hanya sebatas seremonial semata. Tidak memiliki greget apa-apa. Ini bisa menjadi beban pemerintah karena misinya tidak akan tercapai,” tukasnya.
Ditekannya, kalau hanya sebatas memotivasi generasi muda, cuap-cuap soal hoaks dan sebagainya, gak perlu jadi Utusan Khusus Presiden. “Di luar pemerintahan pun bisa dilakukan. Ini ada kesan, Raffi memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Karena kalau pun bikin kegiatan pasti atas nama perusahaannya, tidak murni menjadi program pemerintah. Contohnya, giat di Yogyakarta, yang dipakai nama Rans,” terangnya.
Gebrak mendesak Presiden Prabowo mengevaluasi kinerja Raffi Ahmad. “Kalau perlu kasih beban kerja yang jelas dan terarah. Jangan hanya kerjanya wara-wiri, ngakunya bicara soal generasi muda, namun pada tingkat implementasi nol besar,” tegasnya.
Diingatkan, pembangunan generasi muda merupakan hal yang sentral dilakukan, apalagi menuju Indonesia Emas 2045. “Kalau model Utusan Presiden untuk pemuda seperti yang dijalankan Raffi, yang ada hanya sensasi sana-sini saja, tanpa program jelas untuk kepemudaan. Kalau demikian, pemerintah akan gagal mencetak generasi muda yang handal,” tandasnya.
Jauh lebih baik, lanjutnya, dipertimbangkan kembali jabatan Raffi Ahmad, dan diganti dengan orang yang memang memiliki visi membangun kepemudaan secara konkrit.




Tinggalkan Balasan