
ACEH TAMIANG — Kerusakan jalan di kawasan Bukit Suling, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, yang nyaris terputus akibat longsor sejak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025, hingga kini belum tertangani. Kondisi tersebut mendorong anggota DPRK Aceh Tamiang dari Partai NasDem, Tri Astuti, S.E., mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan perbaikan.
Longsor yang menggerus hampir separuh badan jalan itu menyisakan keretakan aspal yang semakin melebar dan memanjang. Di tengah tingginya curah hujan belakangan ini, kondisi jalan tersebut dikhawatirkan semakin memburuk dan membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Tri Astuti mengatakan, perbaikan jalan Bukit Suling harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat kerusakan telah berlangsung hampir setahun tanpa penanganan fisik yang memadai.
“Saya mewakili Dapil 3 meminta Pemda agar segera mengerjakan perbaikan jalan Bukit Suling yang ambrol akibat bencana alam pada akhir November 2025. Sudah hampir setahun jalan tersebut kondisinya begitu saja tanpa ada perbaikan,” kata Tri Astuti saat ditemui, Sabtu (24/10/2026).
Menurut dia, kondisi jalan semakin mengkhawatirkan karena bagian pinggirnya mulai becek dan berlubang. Jika tidak segera ditangani, kerusakan berpotensi meluas, terutama ketika hujan terus mengguyur wilayah tersebut.

Ia berharap perbaikan dapat diselesaikan pada tahun ini, terlebih anggaran untuk penanganan jalan tersebut disebut telah tersedia.
“Harapannya tahun ini juga harus selesai, karena anggarannya sudah tersedia,” ujarnya.
Anggaran Rp4,45 Miliar dari Pemko Medan
Menanggapi desakan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Tamiang, Dedi Nurfadli, menjelaskan bahwa penanganan jalan Bukit Suling saat ini masih dalam tahap persiapan.
Menurut Dedi, proyek pembangunan tembok penahan tebing tersebut dibiayai melalui Bantuan Keuangan (Bankeu) dari Pemerintah Kota Medan dengan nilai anggaran Rp4.450.310.000.
Pekerjaan itu semula dijadwalkan mulai pada 29 September 2026. Namun, pelaksanaannya mengalami penundaan karena pihak rekanan masih menyelesaikan pembuatan *bore pile* atau tiang bor di Kota Medan.
Dedi memastikan pihaknya telah berkoordinasi dengan rekanan agar pekerjaan segera dimulai. Ia juga menyebut Bupati Aceh Tamiang terus memantau perkembangan penanganan jalan tersebut.
“Saya sudah konfirmasi ke pihak rekanan agar pekerjaan segera dimulai. Bapak Bupati juga selalu menanyakan agar pekerjaan segera dimulai,” ungkap Dedi.
Material Dijadwalkan Tiba 26 Oktober
Sebagai langkah awal, sebanyak 50 unit *bore pile* direncanakan mulai didatangkan ke lokasi pekerjaan pada Senin (26/10/2026).
Selain mobilisasi material, pemasangan garis pengaman atau *police line* juga direncanakan di sepanjang area pekerjaan untuk mengantisipasi risiko kecelakaan dan menjaga keselamatan pengguna jalan.
Meski tahapan persiapan telah berjalan, masyarakat masih menantikan realisasi pekerjaan di lapangan. Percepatan penanganan dinilai penting agar kerusakan tidak semakin parah dan akses transportasi warga tetap aman, terutama saat curah hujan meningkat.
Pemerintah daerah diharapkan memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana, mengingat jalan Bukit Suling merupakan salah satu akses yang terdampak bencana dan telah lama menunggu perbaikan.




Tinggalkan Balasan