Personil Piket Pusdalops PB BPBA Senantiasa Siaga 24 Jam Memantau 23 Kab/Kota Se-Aceh

Bencana189 Dilihat

SATUKATA.NET. BANDA ACEH – Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Kalaksa BPBA), Fadmi Ridwan, SP, MA, memerintahlan agar personil piket Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBA untuk senantiasa siaga dan memantau kondisi di 23 Kab/Kota se Aceh serta melakukan koordinasi dengan personil piket Pusdalops PB BPBD se Aceh, Rabu (16/04/2024).

Hal tersebut dilakukan sebagai uapaya tindak lanjut pers liris yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Nasrol Adil, S.Si, MT, perihal prospek cuaca dan potensi cuaca ekstrem di Wilayah Aceh selama seminggu kedepan, terhitung mulai tanggal 16 s.d 22 April 2024.

Fadmi Ridwan, SP, MA, menjelaskan selama ini, BPBA senantiasa melaksanakan piket rutin yang dibagi dalam 2 shift yaitu shift I, dimulai pagi sampai sore hari dan shift II, dari sore sampai pagi hari lagi artinya siaga 24 jam.

“Pelaksanaan piket 24 jam, telah berlangsung selama bertahun-tahun, jadi personil yang ditempatkan di Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBA akan memonitor dan melakukan koordinasi dengan personil piket Pusdalops BPBD Kab/Kota se Aceh, terang Fadmi.”

Adapun pers rilis yang dikeluarkan oleh pihak BMKG menjelaskan, anomali SST di Samudra Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) netral (indeks +0.22).

Anomali SST di wilayah Nino3.4 menunjukkan El Nino Moderat (indeks +1.39) kondisi ini menunjukkan El Nino secara gradual terus turun dari periode sebelumnya (kondisi El Nino sudah berlangsung selama 32 dasarian), dan akan beralih menjadi Netral mulai Mei-Juni-Juli (MJJ) 2024.

Selanjutnya, masih terkait informasi dari BMKG melalui rilisnya, saat ini terpantau adanya daerah belokan angin (shearline) dan konvergensi di sebagian besar wilayah Aceh. Suhu permukaan laut yang hangat meningkatkan potensi penguapan (penambahan massa uap air) di Samudra Hindia Barat Aceh dan Perairan Utara Aceh. Selain itu, keadaan atmosfer menunjukkan kondisi udara yang cukup labil.

Berdasarkan kondisi tersebut, wilayah Aceh dalam periode tanggal 16 April hingga 22 April 2024 masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dengan durasi yang cukup lama dan cakupan wilayah yang luas sehingga berpotensi mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi (Banjir Bandang, Longsor, Angin Kencang, dan Gelombang Tinggi).

diingatkan dalam rilis tersebut, waspada potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah Aceh pada periode tanggal 16-17 April 2024 yaitu di wilayah Aceh Selatan (Kecamatan Kluet Timur, Kluet Selatan, Kota Bahagia, Meukek, Labuhan Haji, Labuhan Haji Barat, Labuhan Haji Timur), Nagan Raya (Kecamatan Darul Makmur, Tadu Raya, Beutong, Seunagan, Suka Makmue), Aceh Barat Daya (Kecamatan Babah Rot), Aceh Tenggara (Kecamatan Darul Hasanah, Badar, Deleng Pokhkisen, Ketambe, Tanoh Alas), Aceh Barat (Kecamatan Pantai Ceuremen), Aceh Singkil (Kecamatan Gunung Meriah, Simpang Kanan, Kota Baharu, Singkohor, Suro), Subulussalam (Kecamatan Simpang Kiri, Rundeng, Penanggalan, Longkib), Gayo Lues (Kecamatan Terangon, Rikit Gaib, Putri Betung, Pantan Cuaca, Kuta Panjang,Dabun Gelang, Blang Pegayon, Blang Kejeren).

“Waspadai potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah Aceh pada periode tanggal 18-19 April 2024 yaitu di wilayah Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subulussalam, Simeulue, lanjut Fadmi.”

Plt. Kalaksa BPBA, juga mengingatkan, waspadai potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah Aceh pada periode tanggal 20-22 April 2024 yaitu di wilayah Simeulue, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Jaya, Bener Meriah, Pidie Jaya, Banda Aceh, Sabang, Langsa, Lhokseumawe, Subulussalam.

Sementara itu, beberapa wilayah perairan yang patut diwaspadai terkait tinggi gelombang antara lain, untuk tinggi gelombang 1.25 – 2.50 meter di wilayah Selat Malaka Bagian Utara, Perairan Barat Aceh, Samudera Hindia Barat Aceh, sedangkan tinggi gelombang 0.01 – 1.25 meter di wilayah Selat Malaka Bagian Utara, Perairan Sabang – Banda Aceh, Perairan Meulaboh – Kep. Sinabang dan Perairan Lhokseumawe.

 

Plt. Kalaksa BPBA, menegaskan kembali, sesuai dengan rilis dari BMKG tersebut, pemerintah dan masyarakat dihimbau untuk memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.

Melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon, menertibkan baliho semi permanen, lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometrorologi.

“Menyikapi hal tersebut diharapkan para pemangku kepentingan dan seluruh komponen masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi terjadinya bencana hidrometeorologi di Wilayah Aceh dan senantiasa memantau informasi resmi yang disampaikan oleh pihak BMKG, BPBA dan BPBD Kab/Kota se Aceh maupun Instansi resmi lainnya, tutup Fadmi.”{**}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *